SAAT ITU
"Semua seperti angin, angin yang
lembut. Waktu yang kosong telah terisi dengan gurauan seseorang yang baru saja terlahir
didunia. Semua telah berbeda. Tentang perasaan itu, aku melupakannya. Andai aku
tak melewati itu maka aku sendiri tidak akan bertemu dengan seseorang. Seseorang
yang menjadi bagian hidupku"
Saat
itu, sepulang dari rumah Pak Alwi langsung mengantarku untuk pulang ke rumah.
Aku melihat dengan jelas banyak orang yang ramai disana. Saatku lihat tiang
rumah ada bendera kuning yang sedang dikibarkan. Siapa yang meninggal? Tuhan
mengapa demikian?
“Pak
Alwi”. Seperti tadi Pak Alwi hanya diam dan menunduk. Siapa? Siapa?
Siapa?Selesai Pak Alwi memakirkan mobil di halaman rumah aku berlari segera
masuk ke dalam rumah.
“Ayaaaah”
teriakku kencang
Aku
kehilangan satu sosok yang paling aku sayangi. Tuhan mengapa demikian? Mengapa
kau begitu jahat?Tentang hatiku, aku merasa bahwa dunia berbalik 180 derajat
dalam diriku. Aku tak ingin memperbanyak pertanyaan, yang jelas adalah tulisan
Tuhan yang cantik mengenai hidupku, aku hanya bisa percaya bahwa semua akan
baik-baik saja. Bahwa rasa sakit yang ku alami ini akan berakhir adanya.
Satu hari telah berlalu saat dimana
aku kehilangan satu sosok yang paling aku sayangi, ayah. Pergi ke sekolah
menurutku adalah hal yang sedang tidak ingin aku lakukan sama sekali. Aku menyibukkan diri untuk membereskan kamar
ayah, atau sekedar melihat foto ayah. Kupegang, ku peluk erat-erat bagaikan
tubuh ayah yang saat ini sedang ku peluk. Perlahan airmataku menetes tak
beraturan. Kenangan tentang ayah masih sangat melekat dalam otakku. Biasanya di
pagi hari ia akan sibuk dengan baju hijaunya, namun kini itu hanya sebagai
pengindah ruangan saja. Ayah, aku rindu.
“Senja, kamu
nggak apa-apa?” Tanpa kusadari mama datang dan memegang pundakku.
“Nggak apa-apa
ma” ku yakinkan mama untuk kesekian kalinya mama bertanya.
Mama memelukku. Aku tau dalam hal ini sebenarnya mamalah yang
paling sakit. Ditinggal oleh seseorang yang sangat ia sayangi. Aku melihat
dengan jelas matanya yang seperti baru saja mengeluarkan air mata. Namun,
sekali lagi aku katakan dalam diriku bahwa aku tidak ingin terlihat rapuh
didepan mama.
HILANG
Kematian
ayah membuatku dan mama merasa kehilangan satu sosok dalam hidup kami yang
sangat bersahaja. Ia adalah orang yang sangat peduli denganku. Dan mengenai itu
aku hanya pasrahkan semua kepada Penciptaku.
Setelah
kematian ayah, semua terasa sangat berubah. Perasaan, kehidupan, juga nasib
semua telah berganti. Sampai pada suatu ketika bahwa aku menyadari bahwa hidup
tidak selalu berada diatas. Melainkan pada suatu ketika roda juga akan berputar
kebawah. Kemiskinan yang saat ini ku jalani bersama dengan ibu. Menyadarkanku
bahwa dalam segala hal aku harus terus bersyukur.
Seminggu
setelah ayah meninggal, ibu memutuskan untuk pindah ke Yogyakarta. Aku benar
tidak yakin tentang itu. Tapi apa boleh buat. Semua telah diatur sedemikian
rupa oleh ibu. Sehingga dihari ke delapan esok, benar-benar aku akan kembali ke
Yogyakarta.
Tentang
Awan, aku tidak pernah tahu bagaimana kabarnya. Ada banyak panggilan dari
teman-temanku. Namun, apa dayaku aku tak ingin membuat ibuku bersedih dengan banyak
pertanyaan yang timbul dari teman-temanku.
Saat
ku ingat kembali, saat ku bilang bahwa aku menyukai Yogyakarta sebagai kota
romantis saat itu kini aku berubah haluan aku menyukai Jakarta dengan kenangan
romantis itu. Awan.
Benar,
Senja telah meninggalkan awan. Namun kenangan mereka akan selalu bersama dengan
senjanya hari. Boleh jadi, jika Tuhan mengijinkan aku bisa sekedar bertemu
kembali dengannya. Dan dengan menanti hari itu akan terisi semua hari-hariku
bersama dengan yang lain. Bi Iyem, Pak Alwi dan teman- teman terima kasih. Dan
tentang perasaan itu, hanya Tuhan dan aku yang tahu.
Selamat
tinggal Jakarta. Terima kasih untuk bertemu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar