The World of The Married
Akhir-akhir ini banyak orang membicarakannya salahsatu drama korea ini. Semangat nonton drama korea. Yang sekedar ingin tau jadi ikut-ikutan uploud story sana-sini entah pemainnya. Entah pesan-kesannya. Bahkan mungkin cantiknya pemain-pemainnya.
Saya jadi ingat tentang salahsatu persiapan seorang muslim menyambut ramadhan bersama keluarga barunya. Baik kualitas maupun kuantitas ibadahnya dipersiapkan dari jauh-jauh hari. Dibelahan bumi yang lain tengah mempersiapkan ramadhan terbaiknya, kesehatan, ibadah dan sebagainya sedang yang lain bersiap-siap menghabiskan kuotanya sekedar tau "apa yang trending?" The World of The Married. Nonton deh.
Apa yang kita kerjakan, lakukan akan dihisab. Allahu akbar. Sebagaimana "Tiada yang mereka nanti-nantikan kecuali datangnya Allah dan malaikat (pada hari kiamat) dalam naungan awan, dan diputuskanlah perkaranya. Dan hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan." (QS. Al-Baqarah: 210). Segala yang dikerjakan akan bertemu pada fase dihisabnya segala amalan yang menjadi penentu kelak, syurga atau neraka. Tidak ada yang sia-sia meskipun shalat terlupa. Tak ada yang sia-sia kebaikan kecil seperti tersenyum. Karena sejatinya Allahlah yang menilai pekerjaan kita. Memaksimalkan kemampuan diri dan biarkan Allah yang menentukan. Selama kita hidup, menjadi pelajar atau menjadi pelajaran bagi manusia yang lain.
Barakallah bagi kita semua, selamat menjalankan puasa Ramadhan 1441 Hijriah.
Nawaitu Shauma Ghadin an ada'i Fardhi Syahri Ramadhaana Haadzihis Sanati Lillahi ta'aala
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Kamis, 23 April 2020
Jumat, 17 April 2020
BENTUK PASRAH TERBAIK
#CERITANTI
Hidup tidak pernah
luput dari kegagalan. Yang menjadi pertanyaan, sampai mana kita mau belajar
dari kegagalan untuk mencapai kesuksesan? Sering kali kita mengalami depresi
atau stress lantaran harapan tidak sesuai dengan kenyataan yang kita inginkan.
Misalnya saja saya, dulu sewaktu lulus SMA saya sangat exited belajar untuk
menempuh ujian SBMPTN. Sebagai anak terakhir, saya ingin memberikan yang
terbaik bagi keluarga saya. Bisa masuk perguruan tinggi negeri dan mendapat
beasiswa. Waktu ujian SBMPTN semakin dekat, kira-kira kurang 3 minggu lagi. Saya
semakin rajin belajar selain harus rajin membantu Ibu dirumah. Pergi ke warnet
mengurusi persyaratan SBMPTN atau belajar online-pun saya lakukan. Dari usaha
itu saya harus menerima dengan berat hati (awalnya). Allah menghendaki, tahun
itu saya tidak bisa mengikuti SBMPTN. Maag saya kambuh.
Saya ingat, saat itu
saya sedang buka puasa beberapa menit berselang perut saya sangat sakit.
Alhasil saya dibawa kedokter dekat rumah saya. Minum obat sudah, tapi tetap
saja sakit diperut saya semakin hari semakin bertambah. Alhasil saya diantar
kembali ke dokter yang berbeda. Namun lagi-lagi Allah belum meridhoi saya untuk
sembuh. Akhirnya untuk ketiga kalinya saya dibawa salahsatu dokter langganan
kakak saya (Dokter spesialis paru-paru). Qadarullah, Allah meridhoi saya sembuh
setelah berobat disana, ya meskipun sedikit aneh saya sakit perut namun berobat
ke dokter spesialis paru-paru. Selama hampir seminggu saya sakit, saya tidak
melakukan aktivitas belajar. Waktu juga menunjukkan kurang beberapa hari saya
harus ke Surabaya untuk ujian. Dengan
keadaan yang belum sepenuhnya membaik, ibu saya tidak mengizinkan untuk saya
pergi ke Surabaya. Yang saya lakukan hanya mengiyakan, tanpa berpikir bagaimana
kedepannya.
Waktu berlalu, saya
bingung apa yang harus saya lakukan. Ibu saya akhirnya menyarankan untuk
bekerja sambil menunggu ujian ditahun selanjutnya. Allah, barulah disitu saya
menyadari betapa saya telah gagal. Gagal mengikuti ujian karena perbuatan saya.
Saya yang sahur dan berbuka dengan makanan pedas. Allah begitu baik dengan
memberikan pelajaran berharga tersebut. Selama saya mencari pekerjaan, saya
menangis karena saya menginginkan sekali bisa mendapat beasiswa kuliah. Bagi
saya itulah lading saya bisa memperbaiki kondisi perekonomian keluarga.
Setelah 3 bulan lamanya,
akhirnya saya mendapatkan pekerjaan atas bantuan saudara saya. Bekerja hingga
malam dengan jarak lokasi kerja dan rumah hampir setengah jam. Saya putuskan
untuk keluar. Sayapun mencari kembali, Alhamdulillah saya mendapatkan pekerjaan
baru. Namun, lagi-lagi beratnya saya tidak kuasa. Saya akui saya memang
cengeng, maklum keinginan saya adalah kuliah dulu baru bekerja bukan bekerja
dulu baru kuliah. Pada bulan ramadhan tahun itu, paman saya datang kerumah.
Beliau menginformasikan kepada saya untuk ikut ke Jakarta, bekerja di sebuah
sekolah swasta. Jakarta? Saya belum pernah kesana, sama sekali. Namun ajaib,
saya mengiyakan. Pada bulan januari saya ke Jakarta, sendiri. Saya menahan
tangis, saat kereta tengah sampai di daerah yang penuh dengan gunung. Hati saya
tersayat, karena untuk pertama kalinya saya harus meninggalkan keluarga saya.
Dikota yang sama sekali saya tidak tau menau seperti apa.
Sampai diJakarta pada
pukul 2 malam, saya kembali dibuat menangis. Nasi yang saya bawa kena air dari
jeli yang dibawakan ibu saya. “Ya Allah itu nasi buatan ibu saya”. Saya
menangis, namun harus saya tahan. Berkahir pada tong sampah, usaha ibu saya
membuatkan sejak siang hari untuk saya bawa sebagai bekal ke Jakarta. Lapar?
Sudah pasti. Hari-hari saya lalui bekerja di sekolah, sebagai shadow teacher atau sebagai tukang
bersih-bersih sekolah. Pagi hari membersihkan sekolah, dilanjutkan menangani
anak berkebutuhan khusus, membantu teteh memasak untuk makan siang para siswa,
diakhiri dengan membersihkan kembali sekolah. itulah aktivitas saya. Sesekali
paman saya menjenguk saya, membawakan barang-barang yang saya minta atau
sekedar menelpon. Saat itu, saya sama sekali tidak kefikiran terkait mendaftar
kuliah kembali.
Pada siang hari, saya
mendapat notif pesan dari teman saya yang mengabarkan kepada saya mengikuti ujian SBMPTN. Sayapun jadi
turut ingat, akhirnya diam-diam sayapun turut mendaftar. Bekerja dan belajar.
Dua hal yang saya lakukan, kalau boleh bilang berat namun saya tetap lakukan.
Bersabar atas apa yang saya inginkan. Belajar dari apa yang sudah terjadi.
Sayapun menjaga kesehatan mental pun kesehatan. Bulan ramadhan saya usahakan
untuk terus shalat tahajud meminta yang terbaik kepada Allah.
Tiba ujian, sayapun
deg-deg’an. Saya bangun jam 4 pagi, mandi shalat dan minta Pak Ipul (Suami
teteh) untuk mengantar saya ke pemberhentian Transjakarta. Alhamdulillah,
selama 2 jam saya berdiri menahan lapar dan sesaknya orang yang tengah pergi
bekerja. Lantaran kursi bus yang sudah penuh. Dalam keadaan belum makan, sayapun
akhirnya membeli makan dan melanjutkan perjalanan (naik angkot ke lokasi ujian).
Sebelum memasuki SMK Negeri 41 Jakarta (tempat ujian SBMPTN saya) saya
memutuskan untuk makan dulu. Alhamdulillah, lauk itu sedikit basi. Akhirnya
untuk mengenyangkan perut saya putuskan untuk makan sedikit roti yang saya bawa
dan sudah saya gerigiti sejak tadi karena kelaparan.
Ujian berlangsung
dengan lemas. Saya pulang saat maghrib. Alhamdulillah badan saya terasa sangat
pegal.Qadarullah, teman-teman saya disekolah saya memahami hal itu (saya
tinggal disekolah). Saya disuruh istirahat sebentar, mandi, makan dan lalu
tidur. Sambil menunggu pengumuman, aktivitas saya lalui seperti biasa bekerja
dan bekerja.
Hari itu tiba, saya
sangat sesak. Teman-teman saya menginginkan segera membuka pengumumannya, namun
saya sangat gugup. Dalam hati saya mengatakan “dibuka setelah shalat Isya”.
Karena hati dekat dengan Allah, sayapun mengikuti kata hati saya. Selama itu
juga saya menanti dengan tetap berdoa. Alhamdulillahirobbil’alamin saya
dinyatakan lolos ujan. Namun, saya tidak bisa 100% senang. Lantaran pengumuman
beasiswa saya yang harus menunggu kira-kira satu bulan. Alhasil saya pun
menlanjutkan pekerjaan sampai dengan libur sekolah dan memutuskan berhenti
bekerja.
Dalam keadaan belum
pasti saya mengencangkan doa, agar saya permohonan beasiswa saya diterima.
Banyak tetangga saya (saya sudah kembali ke jawa) yang menanyakan “kok belum
balik?” saya hanya mengiyakan. Namun, dalam hati saya sangat takut.
Alhamdulllah, permohonan beasiswa diterima. Saya sangat senang sekali.
Alhamdulillahirobil’alamin.
Melalui beberapa fase
cobaan, saya belajar arti perjuangan. Berjuang mencari pekerjaan, menerima
makian (lantaran kerja saya yang tidak sesuai), menerima tubuh saya yang kurus
(beratnya membersihkan sekolah), dsb. Namun, Allah menghendaki keinginan saya
untuk bisa kuliah dengan beasiswa. Allah Maha Baik. Melalui ikhtiar, berdoa dan
bersabar akhirnya keinginn saya terwujud. Itulah bentuk pasrah terbaik saya,
tetap usaha meski benar berat adanya.
Senin, 04 November 2019
Menerima Adalah Jalan yang Sebenarnya
Kira-kira dimulai empat hari
yang lalu kota yang saya singgahi mulai turun hujan. Hal ini sangat
menggembirakan bagi banyak orang utamanya mahasiswa dengan aneka ragam status whatsapp yang mereka buat. Pasalnya, beberapa
gunung yang ada disini terbakar karena cuaca yang panas. Kembali ke topik,
hujan mengakibatkan jalanan menjadi becek karena genangan air, tak hanya itu
kita bisa melihat bagaimana nyamuk bertelur disembarang tempat yang tergenang
air (mungkin botol yang kamu buang sembarangan turut menjadi salahsatunya).
Jalanan yang becek membuat kita harus memilih jalan yang aman. Jalan yang aman?
Saat melewati jalanan
belakang kampus yang mana tengah diperbaiki dengan berbagai bebatuan berbentuk
persegi panjang yang kira-kira ukurannya sebesar 15x5cm (sungguh aku tidak tau
apanamanya). Perbaikan memang belum selesai, akibatnya saya harus melawan jalan
tanah yang becek dan tergenang air untuk mendapatkan jalan yang aman. Setelah
melewati jalan tanah yang becek, sayapun harus berjalan pada jalanan yang
sempit yang sudah berbatuan persegi panjang untuk tidak melewati jalan berpasir
(yang pasti sepatu saya akan lebih kotor). Saat perjalanan itu terjadi, otak
saya merekam sebuah jejak yang memang sebaiknya kita lalui. Tiba-tiba dalam
hati saya menyebutkan demikian: “Temui jalan berkelok, becek atau kamu
menyebutnya menyebalkan untuk mendapatkan jalan yang sebenarnya”. Hal itu
lantas membuat saya berfikir kembali, apa maksudnya dari otak saya yang sering
mengalirkan kata-kata ini?
Kita bisa membuat diri kita
mendapatkan sesuatu yang sangat kita inginkan. Caranya pun sangat mudah bahkan
banyak orang yang akan mengatakannya. Bergerak temui jalan yang sebenarnya. Tuhan
memang Maha Adil, tentu kita seing mendengar bahwa saat kita berusaha keras
akan sesuatu yang kita inginkan, kita pasti akan menemui hasil yang kita
inginkan tersebut. Namun pernahkah kita berfikir? Benarkah kita akan
mendapatkannya? Disini saya tidak berusaha untuk menakuti, hanya ingin membuat
kalian tau untuk memulai menata fikiran bahwa kesedihan, rasa sakit apa yang
akan kita berikan agar apa yang kita inginkan benar-benar terwujud. Ini yang
harus kita rancang dalam benak kita.
Sering kita berspekulasi
bahwa ketika kita ingin meraih A akan mendapatkan hal yang sesuai kita inginkan
tersebut dari usaha kita. Namun hal ini belum tentu (jangan lupa bahwa kita
memiliki takdir). Ketika kita ingin meraih A namun kenyataannya justru membawa
kita pada D. Hal ini mungkin menyakitkan karena tidak sesuai dengan apa yang
kita inginkan, tapi ada hal besar yang harus kita bangun. Menerima. Saat kita
menerima lingkungan atau pilihan dari Tuhan “D” tersebut sebenarnya jalan
itulah yang sebenarnya untuk kita. Saya tidak berbicara bahwa anda harus
menyerah. Jalan yang kita tempuh memang tidaklah mudah, penuh tantangan bahkan
mungkin kita akan menangis. Namun, saat kita mengetahui gagal meraih A dan kita
mendapatkan “ganti” D tentu hal utama yang harus kita lakukan adalah menerima.
Lingkungan dimanapun, sebenarnya jika menerima dengan segenap hati lingkungan
tersebut akan membuat jiwa kita menjadi tenang dan kitapun bisa berkembang
dengan baik. Sukses tidak selalu berkaitan dengan jalan yang kita inginkan,
karena kita harus benar-benar mengetahui bahwa setelah berusaha menemui jalan
yang panjang, berkelok-kelok dan keras kita ditempatkan pada satu tempat yang
spesial untuk kita.
Yang saya inginkan dalam
tulisan ini adalah kita bersama-sama bisa menemukan jalan yang sebenarnya untuk
kita. Tak melulu jalan itu sesuai dengan apa yang kita inginkan, karena jalan
yang sebenarnya jauh membuat kita belajar banyak hal. Terima kasih.
Senin, 07 Oktober 2019
Tidak ada Proses Tanpa Solusi (Tulis.me)
Menjadi seorang penulis adalah cerita dan proses yang panjang.
Seperti saya, yang saat ini sedang tekun-tekunnya untuk selalu belajar sebagai
seorang penulis.
Ditahun 2018 ini saya memutuskan untuk mencintai dunia sastra.
Berawal dari membaca buku dan menulis diary saya memutuskan untuk
menekuni diri sebagai seorang penulis sejati. Dibalik menjadi seorang penulis
yang hebat, ternyata membutuhkan pikiran dan waktu yang amat panjang. Pasalnya,
saya merupakan pribadi yang tidak menyukai kebisingan maupun keramain, karena
itu saya membutuhkan ketenangan ketika menulis. Saat kebisingan atau kegaduhan
datang, emosi negatif dalam diri saya muncul . Amarah dan ide kreatif seketika
hilang begitu saja, akibatnya timbulah emosi itu. Sehingga, ketika ada orang
yang menganggu saya ketika menulis saya memilih membuang nafas. Karena saat
membuang nafas tersebut emosi negatif yang muncul dan kepenatan dalam menulis,
akan sedikit terkurangi dengan dikeluarkannya nafas. Selain itu yang saya rasakan
adalah badan terasa ringan.
Sebagai penulis awal, saya sudah mengikuti beberapa kali lomba
menulis seperti cipta puisi aupun cerpen. Meskipun saya belum menjadi juara dalam lomba tersebut namun, hal
itu memberikan saya pengalaman yang amat berharga. Berikut ini saya berikan
beberapa tips kepada penulis pemula, sebagai beriku
1.
Minum
air putih
Air putih memiliki banyak sekali manfaat, salah satunya adalah
membuat pikiran rileks dan tenang. Sebagai penulis pemula, saya pribadi akan
memiliki rasa menggebu-nggebu dalam belajar. Namun, hal ini harus diimbangi
dengan kondisi tubuh yang stamina. Untuk itu, banyak minum air putih akan
membuat pikiran tenang, dan badan akan stamina. Namun, jika badan lelah
sebaiknya harus istirahat.
2.
Istirahat
Istirahat yang cukup akan membuat otak semakin fresh dalam
bekerja. Selain itu, membuat jiwa semakin giat dalam menulis.
3.
Pelan
tapi pasti dan keinginan belajar.
Rasa menggebu juga semangat yang tinggi, pasti dimiliki oleh setiap
penulis. Namun, ketika menulis alangkah baiknya bila dilakukan dengan pelan
namun pasti. Karena pada dasarnya setiap individu memiliki jam bosan pada diri sendiri.
Rasa pelan da pasti ini juga harus diimbangi dengan keinginan untuk terus
belajar. Hal itu harus benar-benar dipupuk dalam jiwa juga hati.
4.
Yakin,
bisa!
Pertama kali saya mengikuti event lomba menulis, saya begitu yakin bila karya saya akan menang. Namun, ternyata idak demikian.Usaha saya belum membuahkan hasil. Namun demikian, bukan sebagai alasan untuk berhenti membuat karya dan belajar. Justru sebaliknya, saya semakin semangat untuk belajar, dan terus belajar. Keyakinan juga rasa percaya diri yang tinggi akan membuat seluruh dunia akan takluk.
Pertama kali saya mengikuti event lomba menulis, saya begitu yakin bila karya saya akan menang. Namun, ternyata idak demikian.Usaha saya belum membuahkan hasil. Namun demikian, bukan sebagai alasan untuk berhenti membuat karya dan belajar. Justru sebaliknya, saya semakin semangat untuk belajar, dan terus belajar. Keyakinan juga rasa percaya diri yang tinggi akan membuat seluruh dunia akan takluk.
5.
Cermat
Selain mengasah pikiran, menjadi seorang penulis harus cermat.
Sehingga, pembaca dapat memahami apa
yang ditulis oleh penulis. Seringkali saya melewatkan hal itu, ketelitian
maupun kecermatan memang harus dimiliki oleh seorang penulis.
Demikianlah, tulisan saya mengenai tips juga sedikit cerita
mengenai proses menulis saya. Semua saya tulis berdasarkan pengalaman saya.
Terima kasih.
Jumat, 30 Agustus 2019
5 Langkah Agar Anda Tidak Mengantuk Saat Pembelajaran Berlangsung di Kelas
Sekolah merupakan tempat menimba ilmu. Dengan sekolah Anda
telah menabung untuk masa depan Anda atau dalam hal ini sekolah merupakan
investasi masa depan. Bukan hanya itu, dengan sekolah Anda akan lebih bijak
untuk mengambil keputusan. Namun, pernahkah Anda mengantuk saat dimana
pembelajaran disekolah berlangsung? Tentu hal ini mungkin pernah Anda alami.
Lalu langkah apa sajakah yang bisa dilakukan untuk mengusir rasa ngantuk yang
teramat? Berikut adalah tips langkah agar Anda tidak ngantuk saat proses
belajar didalam kelas berlangsung:
1. Olah Raga RinganAnda tentu sudah pernah mendengar bila dengan berolah raga tubuh akan sehat bukan? Bukan hanya itu saja, dengan olahraga ringan rasa kantuk yang Anda miliki akan perlahan-lahan berkurang. Hal ini lantaran otot-otot pada tubuh kembali terbangun untuk merasakan gerakan-gerakan kecil yang Anda buat. Bukan tidak pasti bila rasa kantuk yang Anda miliki nantinya perlahan-lahan menghilang. Selamat mencoba!
2. Perbanyak Minum Air Sebelum Pembelajaran Berlangsung
Metode belajar yang digunakan oleh guru di kelas memang memiliki efek terhadap hasil yang dimiliki siswanya. Lalu bagaimana bila metode yang digunakan membaut Anda merasa ngantuk atau bahkan boring? Anda bisa sesekali meminum air putih saat pembelajaran berlangsung untuk mengurangi rasa kantuk Anda saat pembelajran. Sama dengan berolah raga, perbanyak minum air juga memberikan kesehatan bagi tubuh. Hal ini karena air menyimpan kandungan energy untuk mengembalikan tubuh yang dehidrasi. Hal ini akan membuat Anda kembali lebih fresh dan belajarpun kembali semangat.
3. Biasakan Badan Tetap Tegak
Sebuah penelitian mengatakan bahwa posisi duduk dapat mempengaruhi rasa kantuk pada seseorang. Dengan duduk tegak tubuh Anda akan menerima oksigen lebih lancar dan darahpun juga mengalir lebih baik. Sehingga otak akan lebih fokus dalam mencerna saat pembelaran berlangsung. Hal ini akan membuat Anda aktif tanpa rasa kantuk. Duduk tegak bukan hanya memberikan manfaat mengurangi rasa kantuk saja, namun juga menghindari tulang badan Anda mengalami permasalahan karena salah mengambil posisi duduk.
4. Jangan Terlalu Banyak Diam
Artinya Anda harus aktif dalam pembelajaran dengan anda aktif anda tidak akan merasa mengantuk. Dengan aktif akan Anda berbicara dan otak Anda akan merespon setiap balikan informasi yang Anda dapatkan. Hal ini akan membuat Anda fokus tanpa rasa kantuk muncul. Dengan demikian Anda bukan hanya menghilangkan rasa kantuk Anda namun juga membuat Anda berani untuk mengungkapkan kata-kata atau pertanyaan.
5. Siapkan Mood dan Niat Anda
Dengan menyiapkan mood dan niat Anda telah membuat diri Anda menyiapkan energy positif pada diri Anda. Anda bisa melakukannya dengan mengatakan sendiri pada diri Anda. Seperti dengan menggunakan kalimat berikut: “Saya adalah seorang anak yang baik, maka saya harus belajar”. Setiap kalimat yang kita utarakan akan mempengaruhi segala sesuatu yang kita kerjakan. Lalu bagaimana cara membuat mood belajar saat rasa kantuk menerjang? Anda bisa melakukannya dengan memberikan senyuman untuk setiap kali guru Anda mengucapkan sebuah kata dalma pembelajaran. Senyum dapat memberikan sensasi mood yang berbeda dari pada Anda terlihat murung atau tidak bersemangat. Jadi pastikan mood dan niat Anda tertata rapi.
Itulah beberapa hal yang bisa Anda coba untuk mengurangi rasa kantuk Anda. Selamat mencoba!
Jumat, 23 Agustus 2019
Yuk, Intip Tulisan Saya di Hipwee Seputar Belajar!
(Sumber: www.hipwee.com)
Belajar merupakan kewajiban bagi setiap orang termasuk Anda yang merupakan mahasiswa, maka belajar adalah hal yang harus Anda perhatikan waktunya. sebagai seorang mahasiswa tentu Anda bukan hanya disibukkan dengan beban tugas tapi segala aktivitas diluar kampus. Misalnya organisasi tentu hal ini akan menyita waktu Anda untuk belajar atau mengerjakan tugas. Tak khayal bagi kebanyakan mahasiswa aktivitas yang padat bisa saja membuat orang stress. Anda tentu tidak ingin mengalaminya bukan? Temukan cara ampuh menghadapi aktivitas kuliah yang padat pada link dibawah berikut ini: https://www.hipwee.com/list/hai-mahasiswa-sudah-tahu-cara-ampuh-menghadapi-aktivitas-kuliah-yang-padat-yuk-lakukan-ini/
Jangan lupa tinggalkan komentar Anda!
Belajar merupakan kewajiban bagi setiap orang termasuk Anda yang merupakan mahasiswa, maka belajar adalah hal yang harus Anda perhatikan waktunya. sebagai seorang mahasiswa tentu Anda bukan hanya disibukkan dengan beban tugas tapi segala aktivitas diluar kampus. Misalnya organisasi tentu hal ini akan menyita waktu Anda untuk belajar atau mengerjakan tugas. Tak khayal bagi kebanyakan mahasiswa aktivitas yang padat bisa saja membuat orang stress. Anda tentu tidak ingin mengalaminya bukan? Temukan cara ampuh menghadapi aktivitas kuliah yang padat pada link dibawah berikut ini: https://www.hipwee.com/list/hai-mahasiswa-sudah-tahu-cara-ampuh-menghadapi-aktivitas-kuliah-yang-padat-yuk-lakukan-ini/
Jangan lupa tinggalkan komentar Anda!
Minggu, 11 November 2018
Memberi Waktu
(https://www.pinterest.com)
Masalah satu hal yang sangat bahkan ingin dihindari oleh setiap manusia, termasuk saya. Saat masalah datang dan bertumpukkan, semua akan terasa sangat mengerikan bagaikan ditimpa sebuah pohon. Berat sudah pasti! Namun taukah bahwa saat itulah dirimu membutuhkan waktu untuk sendiri!
Maksudnya adalah saat kita memiliki masalah, bukan waktunya kita merenungi masalah secepat badan dan pikiran kita untuk menyelesaikannya. Berikan jeda atau waktu untuk diri, pikiran dan badan dalam menyelesaikan masalah. Sebab kesehatan dalam diri kita harus selalu diperhatikan, dalam hal ini kesehatan hati dan pikiran. Orang yang banyak memiliki masalah akan merasa berat dikepala, terbebani dan penyelesaian yang terus terfikirkan namun belum tau bagaimana bertindak membawa beban berat dalam otak manusia. Saat badan dan pikiran diberikan waktu sejenak untuk menyelesaikan masalah, artinya kita sudah mampu menjaga kesehatan dalam diri saudara.
Pada buku karya Masaharu Tinaguchi (2015: 37) mengatakan bahwa memikirkan masalah yang buruk atau sepele akan merugikan diri. Artinya adalah saat kita memikirkan masalah atau hal kecil yang memberatkan pikiran maka akan merugikan kesehatan. kita pernah tau bahwa seorang pengemis memungut makanan dari sampah namun tak pernah sakit, anak jalanan makan tanpa mencuci tangan namun tak sakit, orang yang tidur dipinggir jalan disetiap harinya namun tak sakit pula. Hal ini karena mereka tak memikirkan rasa khawatir. Begitupun ketika kita memiliki masalah, jangan merasa khawatir karena pada dasarnya masalah ada karena ada pula penyelesaiannya.
Oleh karena itu, mulai dari sekarang, saat kita memiliki masalah berikan jeda dan waktu untuk pikiran maupun badan dalam menyelesaikan masalah. Sebab, apa yang kita pikirkan akan mempengaruhi kesehatan.
Langganan:
Postingan (Atom)
CATATANNYARAMADHAN "The World of The Married"
The World of The Married Akhir-akhir ini banyak orang membicarakannya salahsatu drama korea ini. Semangat nonton drama korea. Yang seked...





