Sudah dua bulan ini, kaum
krokobolia dihantui serangan mematikan kaum Lalata. Dengan moncong ganasnya
yang mampu membunuh kaum krokobolia hanya dengan menghisap nutrisi dan gizi
mereka.
“Akhhh Yang Mulai, Yang Mulia ….” Jerit salah seorang kaum
yang tengah kesakitan akan virus kuman kaum Lalata. Kuman itu menggerogoti
tubuh kaum krokobolia hingga badannya berubah menjadi gelap atau kecoklatan
berkahir dengan kehabisan nafas dan tak lama iapun meninggal.
Raja Brolia diluar ruangan
isolasi, nampak iba atas apa yang ia lihat. Pikirannya kalut memikirnya obat
apa yang mampu membasmi atau setidaknya menetralisir virus kuman kaum Lalata.
“Bagimana ini yang mulia,
apa yang harus kita lakukan?”kata seorang pengawal Raja Brolia yang tengah
memandang luka terhadap kaum yang mati. Raja Brolia diam. Ia mendengus kesal atas perlakuan kaum Lalata
terhadap kaumnya. Tapi ia bisa apa? Tak mungkin ia meninggalkan kaumnya dan
pergi menemukan pangeran Tokeka yang selama ini digadang-gadang memiliki
kekuatan hebat.
Apa benar pangeran Tokeka itu ada? Benaknya bertanya-tanya. Aku harus membuat sebuah rencana. gumamnya
Sedangkan disebrang sana.
Seorang pemuda bernama Kolia sedang bersiap-siap entah pergi kemana.
“Bagaimana bisa aku mengalahkan mereka?” pekiknya kesal ia menunduk
berat. “Aku akan menemukan pangeran
Tokeka untuk menolong kaum Krokobolia” ucapnya berapi-api. Kakinya diangkat
beranjak pergi meninggalkan rumah dan kampong halamannya demi mencari pangeran
Tokeka yang mampu membantunya dan kaum Krokobolia dari kaum Lalata yang jahat.
Itulah rencananya.
Dipakainya pakaian khusus
untuk menutupi siapa dirinya. Pakaian yang mampu mengembang, menutupi tubuhnya
bila keadaan tak aman tiba. Tas berat yang berada disampingnya diangkat kepundaknya.
Berbagai peralatan telah ia bawa. Termasuk ramuan dari nenek moyangnya yang
kini berada disaku celananya. Kakinya bergegas memasuki hutan lebat yang memang
dekat dengan rumahnya. Matanya terus siap mengawasi kanan dan kirinya.
Sdangkan dilain tempat, kaum
Lalata tengah mendengar sambutan dari Raja mereka, Raja Lalat. “Wahai kaumku, tiga hari lagi kita akan
menyerang kaum Krokolia dan kita jadikan mereka santapan kita setelah itu kita
bisa menggunakan wilayanya sebagai tempat tinggal kita yang baru” Raja
Lalat berujar semangat.
“Hidup yang mulia raja Lalat” ucap seorang pengawal raja lalu diikuti sorak kaum
Lalata.
Kolia terus berjalan untuk
menemukan dimana tempat tinggal pangeran Tokeka berada. Kakinya awas menerjang
ranting-ranting daun yang kering. “Dari
kisah buku Markoloni dia berkata bahwa pangeran Tokeka berada pada ujung
pepohonan besar yang berada pada ujung hutan ini. Markoloni juga menyebut bahwa
pangeran Tokeka sangat kejam” ucap seorang tua dari kaum Krokolia yang ia
temui.
“Terima kasih informasinya.
Aku berharap kita akan bertemu lagi”
“semoga rencanamu itu berhasil nak”
“Hmmmm”
Selesai bertanya tentang
keberadaan pangeran Tokeka. Ia pun segera beranjak pergi. Namun perut yang
kosong menjadikannya beristirahat.
Kerajaan Krokolia nampak
ketakutan. Bagaimana tidak? Beberapa menit yang lalu Krokolia diserang oleh
kaum Lalata dan mengatakan bahwa mereka menyerang kerajaan Krokolia kembali.
“Kerajaan yang telah berdiri hampir 200 tahun ini tidak boleh kalah” Raja
nampak kesal. Setelah itu ia bergeming kepada pengawal pribadinya dan tiba-tiba
panglima datang.
“Ada apa yang mulia Kolia memanggil hamba?” panglima seraya menunduk.
“Cepat umumkan kepada kaum Krokolia, bahwa siapa saja yang mampu
mengalahkan kaum Lalata akan aku berikan kedudukan yang itnggi dan harta yang
melimpah untuk dirinya dan keluarga” ucap raja penuh karisma
Panglima yang mendengar
langsung mengangguk dan pergi kembali.
Hari mulai gelap. Setelah
beristirahat cukup lama Kolia melanjutkan perjalanannya. Ia pun berjalan cepat.
Tak mau sampai kaum Krokolia musnah. Meskipun lelah mendera, kaki yang bahkan
hampir bengkak tapi semangatnya tetap memburu.
Srek srek srek
“Akh …..sakit, haus”langkah Kolia terhenti mendengar pekikan suara sesorang yang tengah
mengaduh kesakitan. Iapun bergegas mencari sumber suara.
Dilihatnya dibawah cahaya
bulan. Sesosok makhluk yang ia sendiri belum tau apa itu.karena begitu kaget
akan penampakan makhluk itu iapun menjerit.
“Akkkkkkkk……” jeritnya.
Kaget. Sosok mata bulat yang
dimiliki oleh makhluk yang tengah kesakitan itu, segera menoleh kesumber suara.
“To…to..long aaa…ku” ucapnya gagap. Tangannya mencoba meraih Kolia.
Kolia yang tak percaya akan
bertemu makhluk aneh itu bergetar hebat. ia bisa mendengar makhluk yang
dihadapannya itu meminta pertolongan. Reflex ia pun beranjak lari.
“Tu,,tunggu aku tidak akan memakanmu. Aku berjanji”
Kolia yang sudah membalikkan
badannya segera membalikkan badannya kembali. Iapun melihat seksama tubuh
makhluk itu. penuh dengan bercak merah.
Apakah harus? Pekiknya dalam hati. Samar-samar iapun melangkah ke sumber suara.
“To..to.long” ucapnya tak
kuat menahan rasa sakit.
Kolia pun berlari. Lalu
segera menolong makhluk itu. Makhluk yang belum pernah ia temui. Dilihatnya
sebuah bendah tajam mengenai pergelangan tangan makhluk itu sehingga cairan
merah it uterus keluar.
Kolia yang melihat benda
tajam itu nampak bingung, belum pernah ia menemukan benda itu.
“Lepaskan benda ii..tu dari
lenganku”perintahnya seraya memejamkan mata.
Kolia melepaskannya. Cairan
merah tak lama kembali muncul. Makhluk itu mengernyit kesakitan sebelum
akhirnya pingsan. Segera Kolia mengeluarkan sebuah kain dalam tasnya. Diikatkan
ke lengan makhluk itu. ramuan. Gumamnya
dalam hati.
Ramuan yang ada disaku
celananya segera diminumkan ke makhluk aneh itu. dengan susah payah, Kolia
menyandarkan tubuh makhluk aneh ke bebatuan besar.
Sejenak ia melupakan
rencananya.
Semilir angin yang dingin
menusuk kulit. Mampu memanjakan siapa saja yang tertidur dirumah. Tapi tidak
dengan Kolia yang kedinginan diantara rerumputan. Malam itu, setelah berlelah
diri membantu makhluk aneh ia memutuskan untuk tidur.
“Hmmm huaaah… aku harus
segera pergi untuk mencari pangeran Tokeka“ Kolia menguap.
Yang ditolong adalah
pengawal raja Tokeka. Lalu pengawal menolong dihari yang sama. Kolia berhasil
membawa dan meyakinkan pengaran Tokeka untuk membantu kaum Krokolia.
Kolia: Kaum Krokolia yang
merupakan Brokoli.
Raja Brolia: Raja dari kaum
Krokolia
Pangeran Tokeka: Pangeran
Tokek yang akan memakan kaum Lalata
Kaum Lalata: sekumpulan kaum
Lalat yang akan memakan kaum Krokolia (kaum brokoli) dengan virus kumannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar