Rabu, 20 November 2019

Krokolia Brolia



Sudah dua bulan ini, kaum krokobolia dihantui serangan mematikan kaum Lalata. Dengan moncong ganasnya yang mampu membunuh kaum krokobolia hanya dengan menghisap nutrisi dan gizi mereka.
“Akhhh  Yang Mulai, Yang Mulia ….” Jerit salah seorang kaum yang tengah kesakitan akan virus kuman kaum Lalata. Kuman itu menggerogoti tubuh kaum krokobolia hingga badannya berubah menjadi gelap atau kecoklatan berkahir dengan kehabisan nafas dan tak lama iapun meninggal.
Raja Brolia diluar ruangan isolasi, nampak iba atas apa yang ia lihat. Pikirannya kalut memikirnya obat apa yang mampu membasmi atau setidaknya menetralisir virus kuman kaum Lalata.
“Bagimana ini yang mulia, apa yang harus kita lakukan?”kata seorang pengawal Raja Brolia yang tengah memandang luka terhadap kaum yang mati. Raja Brolia diam.  Ia mendengus kesal atas perlakuan kaum Lalata terhadap kaumnya. Tapi ia bisa apa? Tak mungkin ia meninggalkan kaumnya dan pergi menemukan pangeran Tokeka yang selama ini digadang-gadang memiliki kekuatan hebat.
Apa benar pangeran Tokeka itu ada? Benaknya bertanya-tanya. Aku harus membuat sebuah rencana. gumamnya

Sedangkan disebrang sana. Seorang pemuda bernama Kolia sedang bersiap-siap entah pergi kemana.
“Bagaimana bisa aku mengalahkan mereka?” pekiknya kesal ia menunduk berat. “Aku akan menemukan pangeran Tokeka untuk menolong kaum Krokobolia” ucapnya berapi-api. Kakinya diangkat beranjak pergi meninggalkan rumah dan kampong halamannya demi mencari pangeran Tokeka yang mampu membantunya dan kaum Krokobolia dari kaum Lalata yang jahat. Itulah rencananya.

Dipakainya pakaian khusus untuk menutupi siapa dirinya. Pakaian yang mampu mengembang, menutupi tubuhnya bila keadaan tak aman tiba. Tas berat yang berada disampingnya diangkat kepundaknya. Berbagai peralatan telah ia bawa. Termasuk ramuan dari nenek moyangnya yang kini berada disaku celananya. Kakinya bergegas memasuki hutan lebat yang memang dekat dengan rumahnya. Matanya terus siap mengawasi kanan dan kirinya.
Sdangkan dilain tempat, kaum Lalata tengah mendengar sambutan dari Raja mereka, Raja Lalat. “Wahai kaumku, tiga hari lagi kita akan menyerang kaum Krokolia dan kita jadikan mereka santapan kita setelah itu kita bisa menggunakan wilayanya sebagai tempat tinggal kita yang baru” Raja Lalat berujar semangat.
“Hidup yang mulia raja Lalat” ucap seorang pengawal raja lalu diikuti sorak kaum Lalata.
Kolia terus berjalan untuk menemukan dimana tempat tinggal pangeran Tokeka berada. Kakinya awas menerjang ranting-ranting daun yang kering. “Dari kisah buku Markoloni dia berkata bahwa pangeran Tokeka berada pada ujung pepohonan besar yang berada pada ujung hutan ini. Markoloni juga menyebut bahwa pangeran Tokeka sangat kejam” ucap seorang tua dari kaum Krokolia yang ia temui.
“Terima kasih informasinya. Aku berharap kita akan bertemu lagi”
“semoga rencanamu itu berhasil nak”
“Hmmmm”
Selesai bertanya tentang keberadaan pangeran Tokeka. Ia pun segera beranjak pergi. Namun perut yang kosong menjadikannya beristirahat.
Kerajaan Krokolia nampak ketakutan. Bagaimana tidak? Beberapa menit yang lalu Krokolia diserang oleh kaum Lalata dan mengatakan bahwa mereka menyerang kerajaan Krokolia kembali. “Kerajaan yang telah berdiri hampir 200 tahun ini tidak boleh kalah” Raja nampak kesal. Setelah itu ia bergeming kepada pengawal pribadinya dan tiba-tiba panglima datang.
“Ada apa yang mulia Kolia memanggil hamba?” panglima seraya menunduk.
“Cepat umumkan kepada kaum Krokolia, bahwa siapa saja yang mampu mengalahkan kaum Lalata akan aku berikan kedudukan yang itnggi dan harta yang melimpah untuk dirinya dan keluarga” ucap raja penuh karisma
Panglima yang mendengar langsung mengangguk dan pergi kembali.

Hari mulai gelap. Setelah beristirahat cukup lama Kolia melanjutkan perjalanannya. Ia pun berjalan cepat. Tak mau sampai kaum Krokolia musnah. Meskipun lelah mendera, kaki yang bahkan hampir bengkak tapi semangatnya tetap memburu.
Srek srek srek
“Akh …..sakit, haus”langkah Kolia terhenti mendengar pekikan suara sesorang yang tengah mengaduh kesakitan. Iapun bergegas mencari sumber suara.
Dilihatnya dibawah cahaya bulan. Sesosok makhluk yang ia sendiri belum tau apa itu.karena begitu kaget akan penampakan makhluk itu iapun menjerit.
“Akkkkkkkk……” jeritnya.
Kaget. Sosok mata bulat yang dimiliki oleh makhluk yang tengah kesakitan itu, segera menoleh kesumber suara.
“To…to..long aaa…ku” ucapnya gagap. Tangannya mencoba meraih Kolia.
Kolia yang tak percaya akan bertemu makhluk aneh itu bergetar hebat. ia bisa mendengar makhluk yang dihadapannya itu meminta pertolongan. Reflex ia pun beranjak lari.
“Tu,,tunggu aku tidak akan memakanmu. Aku berjanji”
Kolia yang sudah membalikkan badannya segera membalikkan badannya kembali. Iapun melihat seksama tubuh makhluk itu. penuh dengan bercak merah.
Apakah harus? Pekiknya dalam hati. Samar-samar iapun melangkah ke sumber suara.
“To..to.long” ucapnya tak kuat menahan rasa sakit.
Kolia pun berlari. Lalu segera menolong makhluk itu. Makhluk yang belum pernah ia temui. Dilihatnya sebuah bendah tajam mengenai pergelangan tangan makhluk itu sehingga cairan merah it uterus keluar.
Kolia yang melihat benda tajam itu nampak bingung, belum pernah ia menemukan benda itu.
“Lepaskan benda ii..tu dari lenganku”perintahnya seraya memejamkan mata.
Kolia melepaskannya. Cairan merah tak lama kembali muncul. Makhluk itu mengernyit kesakitan sebelum akhirnya pingsan. Segera Kolia mengeluarkan sebuah kain dalam tasnya. Diikatkan ke lengan makhluk itu. ramuan. Gumamnya dalam hati.
Ramuan yang ada disaku celananya segera diminumkan ke makhluk aneh itu. dengan susah payah, Kolia menyandarkan tubuh makhluk aneh ke bebatuan besar.
Sejenak ia melupakan rencananya.
 


Semilir angin yang dingin menusuk kulit. Mampu memanjakan siapa saja yang tertidur dirumah. Tapi tidak dengan Kolia yang kedinginan diantara rerumputan. Malam itu, setelah berlelah diri membantu makhluk aneh ia memutuskan untuk tidur.
“Hmmm huaaah… aku harus segera pergi untuk mencari pangeran Tokeka“ Kolia menguap.

Yang ditolong adalah pengawal raja Tokeka. Lalu pengawal menolong dihari yang sama. Kolia berhasil membawa dan meyakinkan pengaran Tokeka untuk membantu kaum Krokolia.

Kolia: Kaum Krokolia yang merupakan Brokoli.
Raja Brolia: Raja dari kaum Krokolia
Pangeran Tokeka: Pangeran Tokek yang akan memakan kaum Lalata
Kaum Lalata: sekumpulan kaum Lalat yang akan memakan kaum Krokolia (kaum brokoli) dengan virus kumannya.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CATATANNYARAMADHAN "The World of The Married"

The World of The Married   Akhir-akhir ini banyak orang membicarakannya salahsatu drama korea ini. Semangat nonton drama korea. Yang seked...