PENDEKATAN KOMUNIKASI DALAM KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN
Pridianti
Administrasi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang
Email: pridianti13@gmail.com
Pemimpin merupakan orang yang melakukan
kepemimpinan. Sedangkan, kepemimpinan adalah cara yang digunakan pemimpin untuk
melaksanakan tugas mengarahkan, membimbing, dan sebagainya guna mencapai
tujuan. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Tujuan Pendidikan Nasional
yang berbunyi “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif dapat
mengembangkan potensi dirinya, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negera”. Kaitannya,
dalam kepemimpinan sekolah harus mengetahui tujuan nasional pendidikan selain
visi dan misi sekolah.
Dewasa ini, dunia pendidikan diterpa isu
perilaku agresif peserta didik tehadap guru. Tahun 2017 dunia pendidikan
diterpa isu atas kematian seorang guru di Madura bernama Budi Santoso yang
tewas akibat dianiaya muridnya sendiri (dikutip dari replubika.co.id). Sedangkan, pada tahun 2019 yakni kasus perilaku
agresif siswa di SMP PGRI Wiringanom di Gresik yang berani menantang gurunya(www.brilio.net). Padahal, dalam
melaksanakan kegiatan pembelajaran, kepala sekolah memiliki peranan penting. Bukan
saja sebagai seorang supervisor,
kepala sekolah juga harus paham dan mengerti program dan kegiatan apa saja
untuk mengembangkan potensi peserta didiknya. Kepribadian, emosi, spiritual dan
potensi semua unsur dalam peserta didik harus dikembangkan secara positif.
Kepemimpinan pembelajaran pada
hakekatnya memberikan layanan prima kepada peserta didik dalam mengembangkan
kemampuannya disekolah (Nusanti, 2016). Melalui pengalaman dan keterampilan, kepemimpinan
kepala sekolah yang dapat menggerakkan dan melakukan pengawasan dengan baik. Kepemimpinan
pembelajaran memberikan makna bahwasanya bukan hanya peserta didik dan guru
yang menjalankan pembelajaran disekolah, sebaliknya kepala sekolah turut berperan
dan aktif dalam proses pembelajaran. Sehingga, ketika semua pihak andil dalam
pembelajaran maka akan tercipta good
value sekolah(Nusanti, 2016). Melalui pendekatan-pendekatan yang aktif,
kepala sekolah dapat melaksanakan kepemimpinan yang baik.
Kedepannya, kepala sekolah dapat
memperhatikan kepemimpinan pembelajaran yang akan mendukung tercapainya tujuan
pendidikan. Pendekatan komunikasi dapat memberikan pemahaman baik kepada guru
maupun peserta didik dalam pembelajaran. Bukan hanya itu, perhatian terhadap
perkembangan peserta didik, baik dalam aspek emosi, sosial, spiritual dan
kepribadian dalam kepemimpinan pembelajaran akan mengoptimalkan pengembangan
potensi siswa.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana pendekatan
komunikasi yang dilakukan kepala sekolah dalam kegiatan pembelajaran di
sekolah?
2.
Bagaimana
tingkat konsistensi dalam melakukan pendekatan komunikasi kepemimpinan
pembelajaran oleh kepala sekolah?
3.
Bagaimana
evaluasi kepemimpinan pembelajaran yang dilakukan kepala sekolah?
KERANGKA BERFIKIR
Pendekatan Komunikasi
Kepala sekolah bukan hanya harus
memiliki keterampilan spiritual, visioner dan sebagainya, kepala sekolah juga
harus memiliki keterampilan dalam melaksanakan kepemimpinan pembelajaran. Menurut
Tee (Nusanti, 2016) mengatakan bahwa pada dasarnya konsep sekolah sebagai
organisasi mendorong siapapun untuk belajar, bukan hanya siswa melainkan guru,
kepala sekolah dan tenaga kependidikanpun turut belajar sesuai bidangnya.
Sehingga kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran tidak hanya mengupayakan
lulusan dengan nilai yang baik, lebih dari itu kepala sekolah harus
menggerakkan agar siswa memiliki pemahaman pembelajaran yang baik.
Upaya-upaya dalam menghasilkan output yang berkualitas melalui
kepemimpinan pembelajaran, tentu dilakukan dengan pendekatan yang aktif.
Pendekatan yang dilakukan oleh kepala sekolah dapat dilakukan melalui
pendekatan komunikasi, selain pendekatan-pendekatan lainnya. Pendekatan komunikasi
pada umumnya digunakan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, meskipun demikian
pendekatan komunikasi juga harus diterapkan dalam bidang lain guna memperoleh
keberhasilan komunikasi (Fauzi, dkk, 2016). Pendekatan Komunikasi dinilai sebagai pendekatan
yang integraf dan memiliki ciri-ciri yang pasti. Pada dasarnya pendekatan komunikasi
ini merupakan strategi pada tujuan yang pasti, yakni melatih menggunakan bahasa
secara spontanistas dan kreatif(Edi, 2017).
Istilah pendekatan komunikasi pertama
muncul di Inggris yakni communicative
approach(Edi, 2017). Pendekatan komunikasi berasal dari dua kata,
pendekatan dan komunikasi. Pendekatan dapat diartikan sebagai upaya untuk
mendekatkan, sedangkan komunikasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI) online adalah dapat dipahami atau
dimengerti oleh seseorang. Pendekatan komunikasi merupakan suatu pendekatan
atau cara yang digunakan seseorang guna memperoleh kompetensi komunikasi dalam mencapai
tujuan pembelajaran melalui keterampilan berbahasa yakni menulis, berbicara,
membaca dan menyimak. Kepala sekolah dalam melaksanakan pendekatan komunikasi
hendaknya dapat memperhatikan karakteristik seseorang. Pemahaman karakteristik
dapat dilakukan dengan memperhatikan 5W(What,
Who, When, Why, and Where) dan 1 H(How).
Dengan memperhatikan unsur tersebut, kepala sekolah secara tidak langsung akan
memahami karakteristik setiap unsur sekolah dalam melaksanakan kepemimpinan
pembelajaran(Fauzi, dkk, 2016).
Analisis 5W dan 1 H memiliki tujuan
untuk menentukan siapa dan bagaimana implementasi pendekatan komunikasi
dilakukan. Sedangkan menurut Tolla (Edi, 2017) mengatakan bahwa pada dasarnya pendekatan komunikasi
memiliki tujuan yakni (a). Menciptakan kompetensi pada tujuan pembelajaran
bahasa dan; (b). Mengembangkan keterampilan berbahasa baik berbicara, membaca,
menulis maupun menyimak.
Konsistensi
Pendekatan Komunikasi Kepemimpinan Pembelajaran
Mutu
pendidikan banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti lingkungan,
infrastruktur bahkan kepemimpinan. Kepala sekolah melalui kepemimpinan
pembelajaran harus aktif dalam usaha melakukan pengawasan terhadap sarana dan prasarana
yang menunjang pembelajaran. Dalam sebuah penelitian yang berjudul Peran Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam
Pemanfaatan Media Pembelajaran Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Proses
Pembelajaran mengatakan bahwa keberhasilan dalam pembelajaran dipengaruhi
oleh beberapa faktor seperti kesiapan sekolah dalam mengembangkan kurikulum,
fasilitas atau perlengkapan, kesiapan guru, karyawan dan kepala sekolah (Triyanto, dkk., 2013). Kesiapan
sumber daya manusia, utamanya kepala sekolah sebagai pemimpin harus menjadi
perhitungan awal dalam melaksanakan pembelajaran yang sukses. Hal ini
membutuhkan sikap konsistensi kepala sekolah dengan dukungan positif dari guru
maupun karyawan lainnya bahkan masyarakatpun turut andil.
Konsistensi berasal dari kata konsisten
yang berarti stabil. Konsistensi merupakan pendekatan yang dilakukan secara
terus menerus atau berulang-ulang guna mencapai tujuan. Konsistensi memberikan
pengaruh positif jika konsistensi yang dilakukan bernilai positif. Konsistensi
bukan hanya dalam bentuk perilaku sosial melainkan juga harus menuai secara
sinkron ucapan dengan tindakan. Menurut Pace dan Faules (Suryana, 2010) mengatakan bahwa melalui
pendekatan komunikasi kepala sekolah telah berupaya untuk membantu orang lain
guna mencapai tujuan sekolah. Selain itu konsistensi menurut Gaffar dan
teman-temannya (Suryana, 2010) mengatakan bahwa pendekatan komunikasi untuk
menggerakkan pendidik dalam pembelajaran harus diarahkan pada beberapa hal
diantaranya yakni:
a.
Memahami makna
seorang pemimpin
b.
Memahami
karakter dan keinginan dari setiap pendidik dalam sekolah untuk meningkatkan
dan melakukan pengembangan pembelajaran.
c.
Menghasilkan
suatu tindakan, maksudnya adalah dalam melaksanakan kepemimpinannya kepala
sekolah harus memahami apa yang diperlukan dalam melakukan suatu tindakan dalam
menunjang pelaksanaan pembelajaran.
Konsistensi kepala sekolah membawa
esensi kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran. Kepala sekolah merupakan
orang yang benar-benar seorang pemimpin, seorang inovator. Sehingga salahsatu
kunci keberhasilan sekolah adalah kualitas kepemimpinan kepala sekolah melalui
konsistensi kepemimpinan(Suryana, 2010:1). Konsisitensi akan memberikan
kolaborasi yang baik antara kepala sekolah, guru pun tenaga kependidikan guna
menunjang pembelajaran.
Evaluasi
Kepemimpinan Pembelajaran
Melalui kepemimpinan pembelajaran,
kepala sekolah turut berperan aktif dalam meningkatkan kualitas belajar dan
prestasi peserta didik. Bukan hanya peserta didik, kepala sekolah juga berperan
dalam menggerakkan dan melakukan pengawasan terhadap kinerja guru disekolah
guna mencapai pembelajaran yang aktif dan bermanfaat. Lebih jauh, setiap
individu dalam melaksanakan tujuan yang telah disepakati harus bersama-sama
menciptakan organisasi pembelajar. Organisasi pembelajar adalah terwujudnya
masyarakat pembelajar dalam organisasi tersebut, berkaitan terhadap tugas-tugas
maupun belajar memahami keinginan setiap orang.
Evaluasi merupakan suatu kegiatan
penilaian guna mengetahui pelaksanaan dari sebuah program atau kegiatan yang
dijalankan. Menurut Guba dan Lincoln (Arifin, 2012) mengatakan bahwa evaluasi merupakan suatu proses
yang mana terdapat pertimbangan dan atau keputusan suatu nilai dari pengamatan,
latar belakang dan pelatihan dari evaluator. Sedangkan, Menurut Sax (Arifin, 2012) mengemukakan tujuan evaluasi adalah“selection, placement, diagnosis and
remediation, feedback : norm-referenced and criterion-referenced
interpretation, motivation and guidance of learning, program and curriculum
improvement : formative and summative evaluations, and theory development”.
Evaluasi pembelajaran harus melibatkan banyak pihak seperti kepala sekolah,
pendidik, komite dan masyarakat guna memperoleh banyak masukan atau gagasan
terkait pembelajaran. Evaluasi kinerja kepala sekolah sebagai pemimpin
pembelajaran dapat dilihat dari beberapa hal yakni; (1) Prestasi peserta didik;
(2) Prestasi Guru; (3)Teknik Evaluasi rapat kerja sekolah.
Kepemimpinan pendidikan berkaitan dengan
masalah kepala sekolah dalam meningkatkan kesempatan mengadakan pertemuan
dengan pendidik maupun kependidikan guna terkait pembelajaran secara kondusif
& efektif(Triyanto, dkk., 2013). Keterlibatan
masyarakat dalam melakukan pengawasan dan evaluasi kepemimpinan kepala sekolah
juga perlu dilakukan. Dengan demikian, kepala sekolah akan mendapatkan
masukan-masukan positif untuk mengembangkan dirinya dalam mencapai tujuan
sekolah dan menggerakkan sumber daya manusia. Pelaksanaan evaluasi kepemimpinan
kepala sekolah dapat dilakukan berdasar pada sikap kekeluargaan maupun formal.
Rasa kekeluargaan akan memberikan kedekatan yang baik dan membangun rasa saling
memiliki dalam mencapai tujuan sekolah yang telah disepakati. Evaluasi
menghadirkan gagasan-gagasan baru dalam upaya menghadirkan pembelajaran yang
inovatif dibawah kepemimpinan kepala sekolah. Kolaborasi yang tepat akan
membawa kebijakan yang tepat sasaran.
PEMBAHASAN
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa adanya upaya pendekatan komunikasi secara
konsisten yang dilakukan kepala sekolah sebagai kepemimpinan pembelajarab
disekolah. Pendekatan komunikasi kepala sekolah dalam pengembangan SDM yakni
guru, terkait dengan peningkatan kualitas pembelajaran disekolah. Menurut Bapak Musthafa selaku kepala sekolah
SMP Negeri 17 Malang mengatakan bahwa pendekatan komunikasi yang dilakukan
bersifat kekeluargaan. Artinya kepala sekolah tidak melakukan pendekatan secara
formal, guru dipanggil ke dalam ruangan untuk melakukan pembahasan terkait
pembelajaran. Pendekatan yang dilakukan oleh Bapak Musthofa pada satu bulan
terkahir adalah kurang lebih 4(empat) kali. Pendekatan secara formal dilakukan
melalui kegiatan MGMP, guru di tunjuk mengikuti seminar, dsb Kelebihan dari pendekatan komunikasi adalah
kepala sekolah dan guru dapat memiliki rasa kekeluargaan untuk mencapai tujuan
pendidikan. Sedangkan menurut Bapak Musthafa mengatakan bahwa untuk kelemahan
atau hambatan dalam pendekatan komunikasi tidak mengalami hambatan yang
berarti. Artinya dalam melakukan tugas, pokok dan fungsi guru telah diatur
sebagaimana dalam peraturan yang telah ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 14
Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen. Sehingga, kepala sekolah hanya perlu melakukan
pengawasan(supervisi), melakukan
pengembangan dan menggerakkan sumber daya manusia sesuai tupoksi(tugas,pokok
dan fungsi).
Penelitian
juga menunjukkan bahwa tingkat konsistensi kepala sekolah dalam melakukan
pendekatan komunikasi memiliki hasil yang baik. Menurut Ibu Muntiani Rohmah
selaku guru IPA(Ilmu Pengetahuan Alam) mengatakan bahwa tingkat konsistensi
kepala sekolah dalam melakukan pendekatan komunikasi dilakukan melalui briefing atau dilakukan dengan melakukan
komunikasi aktif baik secara langsung maupun melalui media komunikasi
elektronik. Breifing yang dilakukan
dengan penyesuaian kebutuhan, artinya dapat dilakukan sebelum pembelajaran
dimulai atau dilakukan pada jam istirahat. Hal ini dilakukan sebagai upaya
kepala sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran disekolah dengan
melakukan briefing. Hal yang sama
dikatakan oleh seorang peserta didik bernama sifaul Fajri(siswi kelas 8) yang
mengatakan bahwa, kepala sekolah sering melakukan kunjungan kelas untuk
mengetahui pemahaman dan tingkat kreativitas guru dalam melakukan pembelajaran.
Sehingga, jika guru mengalami kesulitan kepala sekolah dapat memberikan
masukkan atau bantuan. Hal ini mengindikasikan bahwa konsistensi kepala sekolah
memiliki kinerja yang baik sebagai pemimpin pembelajaran Sedangkan, evaluasi
dilakukan baik secara formal maupun non-formal. Kegiatan formal dilakukan
dengan rapat yang melibatkan guru atau pendidik terkait pelaksanaan
pembelajaran dengan keseuaian RPP. Sedangkan non-formal dilakukan dengan
melakukan komunikasi yang bersifat kekeluargaan. Hasil evaluasi kepemimpinan
pembelajaran juga melibatkan pada prestasi siswa dan pendidik.
Upaya
kepala sekolah di SMP Negeri 17 Malang sebagai kepemimpinan pembelajaran untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran adalah konsistensi. Implementasi konsistensi
yakni melakukan kunjungan kekelas-kelas, briefing
juga melakukan evaluasi dengan pendekatan komunikasi yang bersifat
kekeluargaan. Seperti yang telah disampaikan diatas bahwasanya dengan
melaksanakan pendekatan komunikasi yang berasas kekeluargaan akan memberikan
pengaruh terhadap pemahaman karakteristik seseorang (Fauzi, dkk. 2016:479). Pendekatan komunikasi
menekankan pada komunikasi. Komunikasi yang baik adalah yang dapat diterima dan
dijawab oleh komunikan. Sehingga diperoleh komunikasi yang aktif
Konsistensi
memberikan pengaruh yang baik kepada pendidik dalam melaksanakan proses
pembelajaran. Meskipun demikian, pendidik juga harus memiliki motivasi dalam
diri. Motivasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online yakni dorongan yang timbul dalam diri sesorang baik secara
sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu kegiatan. Sebab itulah, pendidik
harus memiliki motivasi internal. Begitupun kepala sekolah harus memiliki motivasi
yang tinggi dan bersifat terbuka atau demokratis terhadap masukan dan kritik
baik dari pendidik maupun dari orangtua siswa. Pelaksanaan evaluasi dalam
kepemimpinan pembelajaran harus melibatkan setiap sumber daya yang ada utamanya
pendidik sebagai pelaku utama dalam melaksanakan pembelajaran. Keberhasilan
seorang pemimpin berkaitan dengan bagaimana tingkat kepedulian pemimpin dalam
dua orientasi yakni apa yang dicapai organisasi dan pembinaan terhadap
organisasi(Wahjosumidjo, 2007).
Lebih jauh, dalam menciptakan pembelajaran
yang berhasil kepala sekolah dapat memainkan peran kolaborasi. Maksudnya, kepala
sekolah bersama dengan peserta didik dan guru berkolaborasi yang tepat untuk
menghasilkan perspektif atau pandangan yang sama dalam mencapai visi dan misi
sekolah(Ramdani, 2018:73). Hal lain yang harus dipertimbangkan oleh kepala
sekolah adalah bagaimana kepala sekolah mampu menciptakan suasana belajar yang
efektif dan koordinasi yang harmonis dengan para guru. Kepala sekolah memiliki
tanggungjawab legal untuk mengambangkan staf, kurikulum dan pelaksanaan
pendidikan disekolah. Kepala sekolah harus memperhatikan efektivitas
kepemimpinan dengan menjaga kolaborasi mereka (Wardani, 2015). Bukan hanya
itu, kolaborasi harus menumbuhkan tipe kepemimpinan yang transformasional
dibandingkan hanya manajerial atau instruksional(Ramdani, 2018). Sehingga,
Sumber daya manusia dalam memegang peran penting untuk mengupayakan tujuan
pendidikan begitupun kepala sekolah harus mengupayakan hubungan harmonis kepada
sumber daya yang ada guna mencapai tujuan, visi dan misi sekolah.
KESIMPULAN
Pendekatan
komunikasi memberikan hubungan pada sifat kekeluargaan antara kepala sekolah
bersama dengan pendidik dalam pembelajaran. Pendekatan komunikasi erat
hubungannya pada suatu pendekatan atau
cara yang digunakan seseorang guna memperoleh kompetensi komunikasi guna
mencapai tujuan pembelajaran melalui keterampilan berbahasa yakni menulis,
berbicara, membaca dan menyimak. Pendekatan yang dilakukan Kepala Sekolah SMP
Negeri 17 Malang memiliki konsistensi yang baik. Kegiatan briefing dan kunjungan kelas dilakukan
guna mengetahui perkembangan pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Bukan hanya
itu, komunikasi yang dibangun kepala sekolah bersifat formal maupun non-formal
dan memanfaatkan media elektronik. Hal ini akan membawa dampak positif dalam
implementasi kepemimpinan dan mencapai tujuan. Dengan demikian, pembelajaran
akan memperoleh output yang
berkualitas.
DAFTAR RUJUKAN
Arifin, Z., 2012.
Evaluasi Pembelajaran. Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemetrian Agama.
Edi, R., 2017. Pendekatan
Komunikasi (al Madkhol al-Ittisholi)
dalam Pembelajaran Bahasa Arab. IAIN Raden Intan Lampung.
Fauzi, dkk, F., 2016.
Kepemimpinan Pembelajaran Melalui Pendekatan Komunikasi. Univ. Sebel. Maret,
Prosiding Seminar Nasional Inovasi Pendidikan.
Firmansyah. 2018. Siswa Pembunuh Guru Budi Terancam
Pasal Berlapis. Online. Diakses pada 3 Maret
2019.https://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/18/02/08/p3u0rz377-siswa-pembunuh-guru-budi-terancam-pasal-berlapis
Kamus Besar Bahasa Indonesia . Online.
http://kamusbahasaindonesia.org/motivasi. Diakses pada 13 Maret
2019.
Mahardikengrat.
2019. Viral, Siswa SMP Ini Lawan Guru Karena Ketahuan Merokok. Online. Diakses
pada 3 Maret 2019. https://www.brilio.net/duh/viral-siswa-smp-ini-lawan-guru-karena-ketahuan-merokok-di-kelas-190210y.html
Nusanti, I., 2016.
Kepemimpinan pembelajaran. Widyaiswara PPPPTK Seni Dan Budaya Yogyakarta.
Ramdani, Z., 2018.
Kolaborasi Antara Kepala Sekolah, Guru dan Siswa Dalam Menciptakan Sistem
Pendidikan yang Berkualitas. PROSIDING 1st National Conference on Educational
Assessment and Polic.
Triyanto, dkk., E.,
2013. Peran Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Pemanfaatan Media Pembelajaran
Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Proses Pembelajaran. J. Teknol. Pendidik.,
No 2, Vo;.1.
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003
tentang Tujuan Pendidikan Nasional.
Undang-undang
Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen.
Wahjosumidjo, W., 2007.
Kepemimpinan Kepala Sekolah Tinjauan Teoritik dan Permasalahannya, 1st ed. PT
Rajagrafindo Persada, Jakarta.
Wardani, L., 2015.
Pengaruh Kerpemimpinan, Motivasi Kerja dan Komitmen Organisasi Terhadap
Kepuasan Kerja Dalam Meningkatkan Kinerja Guru SMP Negeri Kota Tegal. Univ.
Dian Nuswantoro Semarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar