Selasa, 26 November 2019

CONTOH ARTIKEL PENDIDIKAN#2


PERAN PEMBINAAN DISIPLIN DAN KODE ETIK SISWA DALAM PENINGKATAN KUALITAS OUTPUT  SEKOLAH
Ahmad Setiaji, Deva Eriyani, Nisrina Zalfa Hayyu,Pridianti,Rusma Indri Octaviani
Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Malang

Abstrack: This research is aimed at exploring the importance of disciplinary
 development and the role of the code of ethics in vocational secondary schools 
in Malang in improving the quality of school output and the steps that the school 
has taken in achieving that goal. The research method used is a qualitative 
research approach by conducting interviews with both the heads of the discipline 
and students. This method the author considers appropriate to explore detailed 
information from the school's efforts in fostering discipline and the role of the code 
of ethics in the vocational secondary school in Malang. The results of this study 
indicate that the role or urgency of disciplinary development and the role of the 
Malang school ethics code are very important. Fostering discipline and the role 
of school ethics play a role in improving the quality of students and the quality of 
school output.


Keywords:discipline, code of ethics, output, students


Abstrak:Penelitian ini ditujukan untuk menggali pentingnya pembinaan disiplin dan peran kode etik sekolah yang dilakukan di Sekolah Menengah Kejuruan(SMK) di kota Malang dalam meningkatkan kualitas output sekolah dan langkah-langkah yang telah diambil sekolah dalam mencapai tujuan tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan penelitian kualitatif dengan melakukan wawancara baik kepada kepala tata tertib maupun siswa. Metode ini penulis pandang tepat guna menggali informasi mendetail dari upaya sekolah dalam pembinaan disiplin dan peran kode etik disekolah menengah kejuruandi Malang.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa peran atau urgensi pembinaan disiplin dan  kode etik sekolah  Malang sangat penting. Pembinaan disiplin dan peran kode etik sekolah berperan dalam peningkatan mutu peserta didik dan kualitas output sekolah. 
Kata Kunci: disiplin, kode etik, output, siswa.

Pendidikan pada dasarnya membuat manusia menjadi manusia seutuhnya. Dengan pendidikan manusia akan memperoleh pengalaman belajar dan informasi untuk menghadapi persaingan global. Dalam mencapai tujuan pendidikan, sekolah memberikan berbagai layanan dengan manajemen yang bermutu dalam menciptakan kualitas output yang baik.
Dewasa ini banyak sekali kasus remaja yang melakukan tindakan penyimpangan atau dalam garis besarnya melakukan hal yang tidak bermoral seperti merokok, mabuk-mabukan dijalan, bahkan pada tahun sebelumnya seorang guru di Madura kehilangan nyawanya akibat kekerasan yang dilakukan oleh siswanya. Hal ini tentunya harus menjadi perhatian setiap khalayak, bahwa saat ini terjadi ketimpangan perilaku siswa yang berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas mutu pendidikan di Indonesia. Pemahaman masyarakat luar mengenai bangsa Indoneia sebagai bangsa yang lembut dan santun namun pada kasus diatas menjadi satu hal yang perlu menjadi bahan diskusi bersama sekaligus menjadi tugas pendidikan untuk menjadikan manusia seutuhnya.
Peneliti memilih Sekolah Menengah Kejuruan(SMK) di Malang sebagai lokasi penelitian disebabkan sekolah ini sesuai dengan hasil wawancara memiliki kurva tingkat pelanggaran kedisiplinan yang tidak stabil pada tiap bulannya, kemudian sekolah ini juga salah satu sekolah yang tegasdan tanggap dalam  memberikan sanksi terhadap para pelanggar kedisiplinan supaya mendapatkan efek jera. Karena, sekolah ini menekankan bahwa pendidikan karakter tentang kedisiplinan sangat berpengaruh terhadap ketercapaian keberhasilan pendidikan sekolah serta menjadi bekal anak ketikaturun dimasyarakat luar guna memperbaiki runtuhnya kedisiplinan dilingkungan masyarakat pada masa kini.
Perlu diketahui bahwa pada dasarnya pendidikan formal disekolah akan sangat membantu jika pihak sekolah menekankan pada pendidikan yang membentuk siswa berkarakter disiplin. Runtuhnya nilai kedisiplinan di masyarakat saat ini, mengakibatkan sekolah harus meningkatkan dan memperbanyak program pembinaan kedisiplinan siswa disekolah.
Jadi, peran pembinaan dan kode etik sekolah erat kaitannya dengan kualitas otuput sekolah. Sehingga, sekolah perlu melakukan kerjasama baik antar staff sekolah maupun wali siswa bahkan masyarakat luas untuk meciptakan kualitas manusia yang bermoral.


METODE
Pendekatan penelitian yang akan digunakan dalam memecahakan masalah  ini adalah dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Menurut Krik dan Keller (Rahmat, 2009)mengatakan bahwa pada mulanya penelitian kualitatif bersumber dari pengamatan kuantitatif. Kemudian Krik dan Keller mendefinisikan bahwa metodologi kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia dalam keasaannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahannya penilitian kualitatif memiliki ciri atau karakteristik yang membedakan dengan penelitian jenis lainnya.
Disimpulkan bahwa penelitian kualitatif disebut pula sebagai naturalistik, artinya penelitian kualitatif bersifat apa adanya. Jadi, sesuai dengan apa yang ditemukan peniliti dilapangan(Rahmat, 2009)
Prosedur pengumpulan data juga dilakukan peneliti melalui wawancara mendalam dengan informan. Wawancara diharapkan dapat menggali informasi yang mendalam berkaitan dengan peran pembinaan dan kode etik sekolah dalam meningkatkan kualitas output sekolah terutama siswa. Selain wawancara pengumpulan data penelitian dilakukan dengan teknik dokumentasi. Dokumen yang dijadikan sumber data adalah buku panduan siswa, data statistik perkembangan pelaksanaan tata tertib sekolah dan buku pelanggaran dari salahsatu peserta didik.
Dari data dan wawancara tersebut, peneliti melakukan analisis dengan melakukan trasnkrip wawancara dan analisis data. Dengan membuat ringkasan hasil transkrip wawancara, kemudian  dibaca dan dipahami. Ringkasan ini berguna bagi peneliti untuk menentukan data mana yang masih perlu dicari. Setelah pengumpulan data selesai dilakukan, peneliti mulai memaparkan keseluruhan data, dan selanjutnya menyusun kesimpulan.

HASIL
Penelitian melakukan observasi selama sehari untuk menentukan 3(tiga) orang siswa yang akan menjadi subjek dalam penelitian. Setelah ketiga siswa dipilih, peneliti mewawancara tentang kondisi kedisiplinan dilingkungan sekolah tersebut.
Wawancara dilakukan setelah peneliti melakukan observasi. Ketiga siswa yang telah dipilih selanjutnya ditanyai oleh peneliti. Peneliti bertanya kepada mereka tentang perilaku yang berkaitan dengan kedisiplinan seperti piket kebersihan kelas, dimana mereka membuang sampah, seragam, sepatu, kaos kaki, perlengkapan belajar, kebiasaan mereka saat pembelajaran berlangsung dan lain-lain. Selain mewawancarai ketiga siswa tersebut, peneliti juga mewawancarai salah seorang guru. Jawaban mereka saat diwawancarai sesuai dengan yang diamati oleh peneliti. Adapun dokumen yang berhasil peneliti dapatkan yaitu berupa buku tentang kedisiplinan disekolah tersebut serta point hukuman. Peneliti juga sempat mengabadikan kegiatan wawancara kepada siswa.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dapat diketahui bahwa siswa disekolah tersebut harus menaati peraturan-peraturan yang sudah ditetapkan disekolah tersebut. Siswa yang melakukan pelanggaran akan di kenai sanksi hukuman yang telah ditetapkan dalam buku panduan peserta didik. Hukuman tersebut sesuai denganpoint-point yang telah ditentukan, mulai dari yang ringan sampai berat. Jika point yang didapat siswa semakin banyak, maka siswa akan diberikan surat peringatan sampai dengan pengeluaran siswa dari sekolah.
Kedisiplinan siswa sangat penting untuk kemajuan sekolah itu sendiri. Sekolah yang tertib akan menciptakan proses pembelajaran yang baik. Namun sebaliknya, di sekolah yang kurang tertib kondisinya akan jauh berbeda dan proses pembelajaran menjadi kurang efektif. Meingkatkan kedisiplinan terhadap siswa sangat penting dilakukan oleh sekolah, mengingat sekolah merupakan tempat generasi penerus bangsa.
Disiplin merupakan suatu kondisi yang terbentuk dari proses dan serangkaian perilaku yang menunjukan nilai ketaatan, kepatuhan, dan ketertiban. Dengan adanya kedisiplinan di sekolah diharapkan mampu menciptakan suasana lingkungan belajar yang nyaman dan tentram di dalam kelas. Siswa yang disiplin yaitu siswa yang biasanya hadir tepat waktu, taat terhadap semua peraturan yang diterapkan disekolah, serta berprilaku sesuai dengan norma-norma yang berlaku.
Kedisiplinan dan kode etik sekolah mempengaruhi kualitas output siswa disekolah, dalam penelitian peneliti melalui pengamatan melihat bahwa perkembangan kualitas pembinaan disekolah sangatlah baik, hal ini didukung dengan guru yang aktif melakukan pendekatan dan penjagaan kode etik siswa yang bertujuan mengantisipasi secara preventif perilaku tidak disiplin siswa. Meskipun demikian, diperlukan perlakuan khusus secara berkelanjutan untuk membentuk siswa menjadi manusia yang displin. Oleh karena itu, peran keluarga dan masyarakat menjadi sangat penting.
Sekolah yang peneliti observasi adalah sekolah yang tertib akan kedisiplinan. Dapat dilihat dari hasil wawancara yang dilakukan peneliti menunjukan bahwa sekolah tersebut mengharuskan siswa-siswinya tertib dalam kedisiplinan. Hal inilah yang menciptakan kualitas output yang baik disekolah tersebut.

PEMBAHASAN
Langkah Pembinaan dan Kode Etik
Pembinaan menurut Chulsum  (Holilulloh, 2016) berarti “proses, cara, perbuatan”. Dalam hal ini, pembinaan merupakan perbaikan pola kehidupan atau tindakan guna untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Karena, secara umum manusia memiliki rasa ketidakpuasan terhadap segalas esuatu, sehingga apabila tujuan hidup tersebut belum tercapai atau bahkan tidak tercapai maka manusia akan berusaha memperbaiki atau menata ulang pola kehidupannya. Pembinaan berarti membantu orang untuk mencapai suatu keberhasilan yang penting. Hal ini merupakan tantangan untuk menawarkan bantuan. (Eleyan, 2011).
Sedangkan, kedisiplinan menurut Rahman (Juliya, 2014) merupakan sikap penuh kerelaan dalam melaksanakan atau mematuhi semua aturan dan norma yang terdapat dalam tugasnya sebagai suatu bentuk tanggungjawab terhadap sesuatu aturan yang berlaku ditempat itu.
Seperti yang telah dikemukakan oleh Aulina dalam penelitiannya mengenai penanaman disiplin yang dilakukan sejak usia dini, bahwasanya penanaman tersebut akan memberikan anak sebuah batasan dalam berperilaku anak saat mereka tumbuh dewasa (Aulina, 2013). Sama halnya dengan pembinaan disiplin akan memberikan sebuah batasan siswa dalam bertindak sesuai peran dan tugasnya menjadi seorang pelajar.

kode etik menurut Imran (Laila, 2014) merupakan norma-norma yang mengatur tindakan atau tingkah laku suatu individu yang berada pada suatu lingkungan tertentu. Jadi, betapa pentingnya diadakannya pembinaan akan kode etik siswa agar tercapainya peningkatan suatu output sekolah.
Kode etik berperan sebagai seperangkat aturan-aturan yang akan membatasi setiap tingkah laku peserta didik. Kode etik siswa dapat disusun oleh peserta didik itu sendiri dengan bimbingan guru. Seperti yang dikemukakan oleh (Holilulloh, 2016) dalam langkah-langkah penyusunan kode etik siswa dapat dilakukan melalui beberapa tahap yakni yang pertama adalah dengan mengundang wakil-wakil peserta didik.
Dari hasil penelitian,  sekolah menentukan kode etik siswa dengan  melibatkan siswa didalamnya. Sekolah menunjuk perwakilan siswa untuk ikut serta dalam ketentuan kode etik siswa. Setelah keterlibatan siswa dilakukan, pihak sekolah meminta persetujuan kepala sekolah dan melakukan penetapan sebagai buku panduan siswa. 
Sedangkan,  pembinaan disiplin siswa disekolah dilakukan pada saat siswa baru masuk, artinya hal ini akan mengingatkan  kembali siswa mengenai tugas dan kewajibannya sebagai seorang siswa disekolah. Sekolah memberikan pembinaan pada saat Masa Orientasi Siswa (MOS) berlangsung  dengan  memberikan buku panduan siswa yang mencakup kode etik siswa dan hal tersebut berlanjut sampai dengan mereka lulus.
Sedangkan, metode yang digunakan oleh sekolah dalam memberikan pembinaan adalah dengan metode disiplin positif. Seperti yang disampaikan oleh  Febriandari metode disiplin positif menekankan  pada pemberantasan tindak kekerasan untuk mendisiplinkan siswa, yang dilakukan dengan hukuman fisik melalui praktek-praktek yang mampu menguatkan perilaku positif siswa(Febriandari, 2017). Sehingga, tercipta lingkungan sekolah yang bebas kekerasan, dan  para guru dilarang melakukankekerasanfisikdan verbal pada siswa dan dianjurkan mengaplikasikan metode disiplin positif.
Metode disiplin sendiri merupakan metode disiplin yang bukan hanya mengoreksi perilaku buruk siswa, melainkan membentuk karakter dan hati siswa. Bukan hanya itu saja, metode disiplin ini juga mengajak orang tua dan pendidik untuk memiliki karakter, hati dan perilaku sehari-hari yang mempunyai dampak terhadap anak. Pada saat yang sama, metode disiplin ini juga melatih anak untuk mempunyai tanggungjawab, memiliki rasa hormat dan memberikan kontribusi positif pada lingkungan sekitarnya.
Kode etik menurut Imran (Laila, 2014) merupakan norma-norma yang mengatur tindakan atau tingkah laku suatu individu yang berada pada suatu lingkungan tertentu. Jadi, betapa pentingnya diadakannya pembinaan akan kode etik siswa agar tercapainya peningkatan suatu output sekolah.
Menurut ketentuan umum Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional(SIDIKNAS), peserta didik merupakan seorang anak yang sedang melakukan proses pengembangan diri melalui pendidikan pada jalur atau jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Disini, siswa digambarkan sebagai seorang individu yang belum dewasa sehingga membutuhkan usaha, bantuan, serta bimbingan dari orang lain guna mencapai tingkat kedewasaannya.

Tujuan Pembinaan dan Kode Etik siswa
Dalam kaitannya  pembinaan dan kode etik siswa memiliki tujuan didalamnya.
Menurut Parsloe (Eleyan, 2011) mengatakan bahwa pembinaan disiplin memiliki tujuan untuk membantu dan mendukung orang untuk mengelola pembelajaran mereka sendiri dan untuk memaksimalkan potensi mereka, mengembangkan keterampilan mereka, meningkatkan kinerja mereka, dan menjadi orang yang mereka inginkan (Eleyan, 2011).
Sedangkan, menurut Imron  mengemukakan pendapatnya bahwa tujuan kode etik siswa sebagai berikut:
1.         Kode etik merupakan pedoman peserta didik dalam bertingkah laku. Standar tersebut dinilai penting, karena pada hakekatnya peserta didik memiliki aneka ragam kultur yang berbeda.
2.         Adanya kesamaan bahasa dan gerak langkah antara sekolah, orang tua, peserta didik dan masyarakat. Sehingga, upaya yang mengarah pada perkembangan positif peserta didik manuju ke arah yang sama, dan bukan saling bertolak belakang.
3.         Menjunjung tinggi citra peserta didik dalam masyarakat. Jangan sampai terjadi, hanya karena tingkah laku peserta didik dapat mencemarkan citra peserta didik dan lembaga.
4.         Tercipta peraturan yang dapat ditaati bersama, khususnya adalah peserta didik sebagai output sekolah dan terlebih adalah personil sekolah selaku orang dewasa yang harus mengajarkan siswa kepada arah yang positif(Imron, 2016).  
Menurut penelitian yang dilakukan tujuan pembinaan dan kode etik sekolah adalah untuk mendisiplikan siswa, dengan membatasi setiap tindakan siswa melalui peraturan atau kode etik siswa yang telah dibuat.
Sehingga, dari hasil  penelitian dan perbandingan artikel, untuk mencapai output sekolah yang baik, pendidikan harus memberikan manajemen yang berkualitas. Yang berarti adalah dalam manajemen peserta didik, yang didalamnya terdapat pembinaan dan kode etik siswa akan menjadikan output sekolah menjadi baik pula. Sehingga tujuan pendidikan mampu tercapai.

Peran Pembinaan dan Kode Etik dalam Peningkatan Kualitas Output Sekolah
     Dalam hasil penelitian peran pembinaan disini adalah sebagai proses atau langkah-langkah yang dilakukan secara berdaya guna dan menghasilkan sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Dalam pelaksanaannya harus didasarkan pada beberapa yang hal bersifat efektif dan pragmatis, yang dimaksud disini adalah memberikan solusi atasapa yang tengah dihadapi saat ini, serta berdasar pada fakta-fakta yang ada dan sesuai dengan kenyataan saat ini.
     Peran pembinaan ini sangat diperlukan guna memperbarui kondisi psikis dan mental seorang individu supaya sesuatu yang belum tercapai atau belum sesuai ekspektasi tadi dapat tercapai dan terealisasikan dengan baik. Terdapat beberapa jenis pola pembinaan yaitu: (1)  pola pembinaan yang otoriter;(2) pola pembinaan yang permisif;(3) pola pembinaan yang demokratis.
     Sedangkan, peran kode etik disini adalah memperjelas, memperinci, dan mempertegas aturan-aturan kedalam bentuk yang lebih eklusif meski telah tersirat dalam etika, karena kode etika akan menjadi suatu acuan demi mewujudkan praktik-praktik dalam pengerjaan tugas.
     Sehingga, untuk mencapai output sekolah yang baik, pendidikan harus melakukan pemeranan pembinaan dan kode etik. Yang berarti adalah dalam manajemen peserta didik, denganadanyaperanananpembinaan dan kode etik siswa akan menjadikan output sekolah menjadi baik pula. Sehingga tujuan pendidikan mampu tercapai.

SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Sekolah memiliki peran dalam pembinaan siswa dan kode etik siswa, dalam implementasinya siswa harus mematuhi dan mampu menerapkan dalam kehidupannya bermasyarakat. Meskipun demikian, hal tersebut harus didukung dan didampingi langsung oleh guru maupun kepala sekolah selaku pemimpin pembelajaran disekolah.
Pada dasarnya pembinaan merupakan suatu usaha mengarahkan atau menggerakkan seseorang sesuai dengan etika yang berlaku dalam masyarakat. Sedangkan displin siswa merupakan sebuah sikap yang harus sesuai dengan tugas dan perannya sebagai seorang peserta didik disekolah. Meskipun demikian, seorang guru maupun staff dan kepala sekolah harus mampu mencontohkan perilaku positif, karena hal ini akan mempengaruhi pula tingkahlaku siswa dalam sekolah tersebut. Sehingga, dibutuhkan kerjasama semua pihak untuk menciptakan kualitas output sekolah yang baik.
Sedangkan , kode etik merupakan seperangkat aturan yang mengikat seseorang dalam suatu organisasi atau lembaga. Kode etik harus dijalankan oleh siswa dengan diimbangi oleh punishmentapabila siswa tersebut melakukan pelanggaran, dan bila tidak menemukan titik terang maka sekolah berhak melakukan pembinaan disiplin siswa. Dalam perkembangannya sekolah memberikan buku panduan yang memuat kode etik siswa. Hal ini memberikan dorongan siswa untuk berperilaku positif, sehingga secara tidak langsung siswa akan menjadi manusia yang beretika dan sekolah mampu mencipatakan kualitas output yang baik.
Kedisiplinan dan kode etik sekolah mempengaruhi kualitas output siswa disekolah, dalam penelitian peneliti melalui pengamatan melihat bahwa perkembangan kualitas pembinaan disekolah sangatlah baik, hal ini didukung dengan guru yang aktif melakukan pendekatan dan penjagaan kode etik siswa yang bertujuan mengantisipasi secara preventif perilaku tidak disiplin siswa. Meskipun demikian, diperlukan perlakuan khusus secara berkelanjutan untuk membentuk siswa menjadi manusia yang displin. Oleh karena itu, peran keluarga dan masyarakat menjadi sangat penting.
Saran
Sebaiknya sekolah harus memberikan pengetahuan kode etik dan penerapan pada semua yang terlibat mulai dari kepala sekolah guru murid, penerapan yang baik dan berkelanjutan akan memperbaiki penerapan kode etik yang berkualitas. Di zaman sekarang kode etik kurang mendapat perhatian, sehingga banyak yang melakukan pelanggaran kode etik, untuk mengatasi hal tersebut harus memberikan pemahaman khusus kode etik dan penerapan yang berkualitasdan dapat diterapkan dengan baik.

DAFTAR RUJUKAN

Aulina, C., 2013. Penanaman Disiplin Pada Anak Usia Dini. Pedagogia 2, 36–49.
Eleyan, D., 2011. Coaching, Tutoring and Mentoring in the Higher Education as a solution to retain students in their m ajor and help them achieve success.
Febriandari, E., 2017. Pnerapan Metode Disiplin Psitif Sebagai Bentuk Pembinaan Pendidikan Karakter Disiplin Anak SD. STKIP PGRI Trenggalek 1, 156.
Holilulloh, M.A., 2016. Pola Pembinaan. UIN Walisongo.
Imron, A., 2016. Manajemen Peserta Didik Berbasis Sekolah. PT Bumi Aksara, Jakarta.
Juliya, Z.., 2014. Kedisiplinan. UIN Malang.
Laila, N.F., 2014. Landasan Kode Etik Peserta Didik. IAIN Tulunganggung.
Rahmat, P.S., 2009. Penelitian Kualitatif. EQUILIBRIUM 5, 1–8.

CATATANNYARAMADHAN "The World of The Married"

The World of The Married   Akhir-akhir ini banyak orang membicarakannya salahsatu drama korea ini. Semangat nonton drama korea. Yang seked...