KLAN LOBAK DAN WORTEL
Disuatu
masa, terdapat dua klan yang saling beradu merebutkan buah keabadian. Klan itu
adalah Klan Wortel dan Lobak. Lobak menginginkan buah keabadian untuk saling
menyimpan bersama. Namun, disamping itu klan Wortel justru merasa memiliki buah
keabadian tersebut. Saling beradu dan berakhir dengan dimenangkannya buah keabadian
oleh klan Lobak. Klan Lobak lalu membuat kerajaan bernama Jeruk Purut. Disatu
sisi, klan Wortel terusir dan mendirikan kerajaan bernama Negara Sembilan Tiang
diseberang.
Selama
hampir dua puluh tahun antara klan Lobak dan klan Wortel saling bermusuhan,
terlahirlah Kubichu dari klan Lobak. Kubichu pribadi yang sangat menyukai
tantangan dan berpetualang. Kubichu berencana untuk melakukan perjalanan ke
Negeri Sembilan Tiang. Namun, klan Wortel tidak akan bisa menerima klan dari
Lobak. Meskipun demikian, Kubichu akan tetap melanjutkan perjalanan.
Berjalan
melalui banyak rintangan alam, sekaligus menikmati keindahan dunia luar adalah
petualangan yang selalu Kubichu nantikan. Ditengah perjalanan ia melihat
antrian yang panjang. Lalu ia bertanya dengan seseorang yang berada paling
belakang yang nampaknya dari klan Wortel.
“Ada
apa?”
“Kami
harus membayar upeti untuk melewati jalan ini. Dan ini bukan utusan langsung
dari pemerintah Negeri Sembilan Tiang”bisiknya lirih sambil menunggu gilirannya
untuk membayar upeti.
Dalam
pikiran Kubichu ia tak pernah bertemu dengan aturan seperti itu di Kerajaan
Jeruk Purut. Dalam Kerajaan Jeruk Purut, upeti merupakan pajak yang dipungut
hanya satu bulan sekali untuk kepentingan masyarakat klan Lobak, jumlahnya pun
sudah ditentukan sesuai dengan peraturan kerajaan.
“Tunggu,
kau siapa? Perawakanmu sendiri tak seperti klan Wortel. Kau nampak putih”
tukasnya.
Selama
ini, dalam perjalanan menuju Negeri Sembilan Tiang Kubichu selalu menggunakan
pakaian yang tertutup. Meskipun begitu, wajah Kubichu yang putih masih bisa
nampak. Alih-alih terancam bahaya, justru Kubichu dengan berani mengatakan
bahwa ia berasal dari klan Lobak.
“Aku
dari klan Lobak, aku siap membantumu”
“Kau...
kau...! tidak aku bersama dengan semua keturunan dari klan Wortel tidak akan
pernah menerima siapapun dari klan Lobak” Suara melengking dari klan Wortel
ternyata mebuat orang yang ada didepannya mendengar.
“Hei
kau klan Lobak?” kata orang yang berada didepannya.
“Kenapa?
Apa salahnya dari klan kami?”
Keributanpun
tak terhindarkan, dan Kubichu sendiri akhirnya tertangkap. Ia kemudian dibawa
di Kerajaan Sembilan Tiang dengan penjara kayu yang diubah seperti gerobak. Tanpa
disadari, ada paman Kubichu yang ternyata selama ini mengawasi petualangan
Kubichu.
Saat Kubichu dibawa menuju kerajaan Negeri Sembilan
Tiang, ia bisa melihat dengan jelas keindahan kota Sembilan Tiang. Dan disana
ternyata ada sebuah patung yang sama dengan patung yang berada di Kerajaan
Jeruk purut. Dari buku yang pernah ia baca, patung itu berwujud klan Brokoli
yang merupakan dewa yang diagungkan oleh klan wortel. Saat itu pula terbesit
cara untuk melepaskan diri dari kerajaan Sembilan Tiang.
Sesampainya
di kerjaan Negeri Sembilan Tiang, iapun langsung dimasukkan kedalam penjara
bawah tanah.
“Aku
ingin bertanya untuk terakhir kalinya, apa arti dari sembilan tiang itu. Dan
mengapa disebut sebagai Negeri Sembilan Tiang?” tanyanya lirih kepada salahsatu
penjaga penjara.
“Dulu saat kami tengah bermusuhan dengan klan
Lobak, terdapat sembilan kesatria yang tangguh dan mereka dari klan Pare.
Itulah mengapa kami mengabadikannya dalam bentuk patung. Sudahlah, nyawamu akan
berakhir hari ini. Tak usah banyak bicara!” ketus penjaga.
Tiba-tiba ada perintah untuk membawa
Kubichu ke dalam Kerajaan Sembilan Tiang. Sesampainya Kubichu didalam kerajaan,
disana sudah ada raja beserta para menterinya. Mukanya terlihat tegang, juga
sangat serius.
“Apa yang kau
lakukan dengan Kerajaan ku?” tanyanya sebagai pembuka percakapan.
“Wahai raja yang agung, tahukah
bahwa diseberang negerimu ini aku berasal dari Kerajaan Jeruk Purut...”
“Tak perlu
berbasa basi, langsung keinti saja!” katanya memotong.
“Baginda raja,
saya tadi melihat sebuah antrian yang panjang. Dan ternyata sedang dilakukan
pembayaran upeti. Aku melihat bahwa disana, para klan Wortel tidak memiliki
cukup uang untuk menbayar upeti. Sehingga aku berniat membantu. Namun, ternyata
kehadiranku adalah benalu diantara keinginanku”
“Benarkah
begitu?”
“Dengan
kejujuranku yang ku bangun di Kerajaan Jeruk Purut baginda!”
“Baiklah, untuk
membuktikan semua perkataanmu itu benar atau tidak maka aku memutuskan untuk
menunda gugatan hukuman kepadamu!”Sang raja tiba-tiba langsung pergi keluar
begitu saja, sedangkan Kubichu merasa lega. Akhirnya ia bisa sedikit menunda
waktu sampai hukuman kepadanya dijatuhkan.
Sedangkan,
sang paman ternyata sedang membuat strategi rencana untuk menyerang kerajaan
Sembilan Tiang. Atas persetujuan Raja Jeruk Purutlah strategi menyerang
kerajaan Sembilan Tiang dilakukan.
Keesokan
harinya, semua pasukan dari kerajaan Jeruk Purut bersiap melakukan penyerangan.
Sedangkan dilain tempat, Kubichu sedang bersiap-siap untuk melanjutkan proses
persidangan.
“Ayo
cepat!” utus penjaga.
Kubichu berada dalam ruang sidang.
“Aku tahu semua
tidak benar salahmu. Namun, kau tetap bersalah karena kau memasuki wilayahku
tanpa ijin. Karena itu aku akan menghukummu sesuai dengan ....”
Tiba-tiba...
“Baginda
kerajaan Jeruk Purut mengepung kerajaan Negeri Sembilan Tiang!” potong seorang
prajurit klan Wortel yang tengah .
“Apa? “ Sang
raja kaget dan mengepalkan tangannya.
Tiba-tiba saja,
datanglah para prajurit beserta panglima dan paman Kubichu.
“Paman” kaget
Kubichu.
Semua orang bersiap melindungi raja,
sedangkan raja tampak marah.
“Kenapa
kau menyerang kerajaanku?”
“menyerahlah
semua telah kami kuasai, termasuk keluargamu!”
Jlebbb... tak
ada lagi pilihan bagi raja dan yang lain kecuali menyerahkan diri. Raja lalu
mengangkat tangannya.
“Ada apa ini
paman? Mengapa demikian? Perang tidak akan menbuat semuanya membaik. Bukankah
itu yang selalu diajarkan oleh Kerajaan kita?”
“Mereka klan
pembangkang juga rakus” seseorang menyahut.
“Hidup kerajaan
Jeruk Purut” sahut yang lain.
Kubichu hanya bisa diam. Sedangkan mulutnya
selalu ingin tergerak. Dan ia berusaha dengan keras untuk tidak berkata-kata.
Namun, benar rasa nasionalisme yang ditanamkan oleh keluarganya sangat kuat.
“Perang
tidak akan berakhir dengan kebahagian. Hanyalah sebagai hasrat dalam tangisan
oarng-orang yang kalah”
“Kubichu”
bentak sang paman mengagetkan Kubichu.
Terlambat..
Tak ada yang mendengar kata Kubichu lagi. Klan Lobak lebih memilih membuat
perhitungan untuk klan Wortel. Kekuasaan telah membuat klan Wortel menjadi
serakah. Buah keabadian sendiri merupakan kekuatan antara klan Wortel maupun
Lobak, bila keduanya saling bertengkar maka yang terjadi adalah dunia sayuran
akan berakhir. Sebab, buah keabadian dipercayakan kepada dua klan itu.
Sedangkan klan Pare merupakan musuh kedua klan itu, namun akibat perebutan buah
keabadianlah kedua klan itu harus saling bertengkar. Sedangkan, raja Kerajaan
Negeri Sembilan Tiang hanya bisa pasrah dan menyerah. Ia kemudian diadili dan
dihukum.
Perang
maupun kekuasaan hanyalah sementara, tidak ada keabadian selain hanyalah Tuhan
semata. Tuhan pemilik semesta. Saling menjaga, mempercayai juga menghargai
adalah faktor utama dalam kita berkehidupan. Sebab, sudah menjadi kodrat bila
kita akan saling membutuhkan satu sama lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar