Jumat, 20 September 2019

Dongeng



KLAN LOBAK DAN WORTEL




Disuatu masa, terdapat dua klan yang saling beradu merebutkan buah keabadian. Klan itu adalah Klan Wortel dan Lobak. Lobak menginginkan buah keabadian untuk saling menyimpan bersama. Namun, disamping itu klan Wortel justru merasa memiliki buah keabadian tersebut. Saling beradu dan berakhir dengan dimenangkannya buah keabadian oleh klan Lobak. Klan Lobak lalu membuat kerajaan bernama Jeruk Purut. Disatu sisi, klan Wortel terusir dan mendirikan kerajaan bernama Negara Sembilan Tiang diseberang.

Selama hampir dua puluh tahun antara klan Lobak dan klan Wortel saling bermusuhan, terlahirlah Kubichu dari klan Lobak. Kubichu pribadi yang sangat menyukai tantangan dan berpetualang. Kubichu berencana untuk melakukan perjalanan ke Negeri Sembilan Tiang. Namun, klan Wortel tidak akan bisa menerima klan dari Lobak. Meskipun demikian, Kubichu akan tetap melanjutkan perjalanan.

Berjalan melalui banyak rintangan alam, sekaligus menikmati keindahan dunia luar adalah petualangan yang selalu Kubichu nantikan. Ditengah perjalanan ia melihat antrian yang panjang. Lalu ia bertanya dengan seseorang yang berada paling belakang yang nampaknya dari klan Wortel.

“Ada apa?”

“Kami harus membayar upeti untuk melewati jalan ini. Dan ini bukan utusan langsung dari pemerintah Negeri Sembilan Tiang”bisiknya lirih sambil menunggu gilirannya untuk membayar upeti.

Dalam pikiran Kubichu ia tak pernah bertemu dengan aturan seperti itu di Kerajaan Jeruk Purut. Dalam Kerajaan Jeruk Purut, upeti merupakan pajak yang dipungut hanya satu bulan sekali untuk kepentingan masyarakat klan Lobak, jumlahnya pun sudah ditentukan sesuai dengan peraturan kerajaan.

“Tunggu, kau siapa? Perawakanmu sendiri tak seperti klan Wortel. Kau nampak putih” tukasnya.

Selama ini, dalam perjalanan menuju Negeri Sembilan Tiang Kubichu selalu menggunakan pakaian yang tertutup. Meskipun begitu, wajah Kubichu yang putih masih bisa nampak. Alih-alih terancam bahaya, justru Kubichu dengan berani mengatakan bahwa ia berasal dari klan Lobak.

“Aku dari klan Lobak, aku siap membantumu”

“Kau... kau...! tidak aku bersama dengan semua keturunan dari klan Wortel tidak akan pernah menerima siapapun dari klan Lobak” Suara melengking dari klan Wortel ternyata mebuat orang yang ada didepannya mendengar.

“Hei kau klan Lobak?” kata orang yang berada didepannya.

“Kenapa? Apa salahnya dari klan kami?”

Keributanpun tak terhindarkan, dan Kubichu sendiri akhirnya tertangkap. Ia kemudian dibawa di Kerajaan Sembilan Tiang dengan penjara kayu yang diubah seperti gerobak. Tanpa disadari, ada paman Kubichu yang ternyata selama ini mengawasi petualangan Kubichu.

 Saat Kubichu dibawa menuju kerajaan Negeri Sembilan Tiang, ia bisa melihat dengan jelas keindahan kota Sembilan Tiang. Dan disana ternyata ada sebuah patung yang sama dengan patung yang berada di Kerajaan Jeruk purut. Dari buku yang pernah ia baca, patung itu berwujud klan Brokoli yang merupakan dewa yang diagungkan oleh klan wortel. Saat itu pula terbesit cara untuk melepaskan diri dari kerajaan Sembilan Tiang.

Sesampainya di kerjaan Negeri Sembilan Tiang, iapun langsung dimasukkan kedalam penjara bawah tanah.

“Aku ingin bertanya untuk terakhir kalinya, apa arti dari sembilan tiang itu. Dan mengapa disebut sebagai Negeri Sembilan Tiang?” tanyanya lirih kepada salahsatu penjaga penjara.

 “Dulu saat kami tengah bermusuhan dengan klan Lobak, terdapat sembilan kesatria yang tangguh dan mereka dari klan Pare. Itulah mengapa kami mengabadikannya dalam bentuk patung. Sudahlah, nyawamu akan berakhir hari ini. Tak usah banyak bicara!” ketus penjaga.

            Tiba-tiba ada perintah untuk membawa Kubichu ke dalam Kerajaan Sembilan Tiang. Sesampainya Kubichu didalam kerajaan, disana sudah ada raja beserta para menterinya. Mukanya terlihat tegang, juga sangat serius.

“Apa yang kau lakukan dengan Kerajaan ku?” tanyanya sebagai pembuka percakapan.

            “Wahai raja yang agung, tahukah bahwa diseberang negerimu ini aku berasal dari Kerajaan Jeruk Purut...”

“Tak perlu berbasa basi, langsung keinti saja!” katanya memotong.

“Baginda raja, saya tadi melihat sebuah antrian yang panjang. Dan ternyata sedang dilakukan pembayaran upeti. Aku melihat bahwa disana, para klan Wortel tidak memiliki cukup uang untuk menbayar upeti. Sehingga aku berniat membantu. Namun, ternyata kehadiranku adalah benalu diantara keinginanku”

“Benarkah begitu?”

“Dengan kejujuranku yang ku bangun di Kerajaan Jeruk Purut baginda!”

“Baiklah, untuk membuktikan semua perkataanmu itu benar atau tidak maka aku memutuskan untuk menunda gugatan hukuman kepadamu!”Sang raja tiba-tiba langsung pergi keluar begitu saja, sedangkan Kubichu merasa lega. Akhirnya ia bisa sedikit menunda waktu sampai hukuman kepadanya dijatuhkan.

Sedangkan, sang paman ternyata sedang membuat strategi rencana untuk menyerang kerajaan Sembilan Tiang. Atas persetujuan Raja Jeruk Purutlah strategi menyerang kerajaan Sembilan Tiang dilakukan.

Keesokan harinya, semua pasukan dari kerajaan Jeruk Purut bersiap melakukan penyerangan. Sedangkan dilain tempat, Kubichu sedang bersiap-siap untuk melanjutkan proses persidangan.

“Ayo cepat!” utus penjaga.

 Kubichu berada dalam ruang sidang.

“Aku tahu semua tidak benar salahmu. Namun, kau tetap bersalah karena kau memasuki wilayahku tanpa ijin. Karena itu aku akan menghukummu sesuai dengan ....”

Tiba-tiba...

“Baginda kerajaan Jeruk Purut mengepung kerajaan Negeri Sembilan Tiang!” potong seorang prajurit klan Wortel yang tengah .

“Apa? “ Sang raja kaget dan mengepalkan tangannya.

Tiba-tiba saja, datanglah para prajurit beserta panglima dan paman Kubichu.

“Paman” kaget Kubichu.

            Semua orang bersiap melindungi raja, sedangkan raja tampak marah.

“Kenapa kau menyerang kerajaanku?”

“menyerahlah semua telah kami kuasai, termasuk keluargamu!”

Jlebbb... tak ada lagi pilihan bagi raja dan yang lain kecuali menyerahkan diri. Raja lalu mengangkat tangannya.

“Ada apa ini paman? Mengapa demikian? Perang tidak akan menbuat semuanya membaik. Bukankah itu yang selalu diajarkan oleh Kerajaan kita?”

“Mereka klan pembangkang juga rakus” seseorang menyahut.

“Hidup kerajaan Jeruk Purut” sahut yang lain.

 Kubichu hanya bisa diam. Sedangkan mulutnya selalu ingin tergerak. Dan ia berusaha dengan keras untuk tidak berkata-kata. Namun, benar rasa nasionalisme yang ditanamkan oleh keluarganya sangat kuat.

“Perang tidak akan berakhir dengan kebahagian. Hanyalah sebagai hasrat dalam tangisan oarng-orang yang kalah”

“Kubichu” bentak sang paman mengagetkan Kubichu.

Terlambat.. Tak ada yang mendengar kata Kubichu lagi. Klan Lobak lebih memilih membuat perhitungan untuk klan Wortel. Kekuasaan telah membuat klan Wortel menjadi serakah. Buah keabadian sendiri merupakan kekuatan antara klan Wortel maupun Lobak, bila keduanya saling bertengkar maka yang terjadi adalah dunia sayuran akan berakhir. Sebab, buah keabadian dipercayakan kepada dua klan itu. Sedangkan klan Pare merupakan musuh kedua klan itu, namun akibat perebutan buah keabadianlah kedua klan itu harus saling bertengkar. Sedangkan, raja Kerajaan Negeri Sembilan Tiang hanya bisa pasrah dan menyerah. Ia kemudian diadili dan dihukum.

Perang maupun kekuasaan hanyalah sementara, tidak ada keabadian selain hanyalah Tuhan semata. Tuhan pemilik semesta. Saling menjaga, mempercayai juga menghargai adalah faktor utama dalam kita berkehidupan. Sebab, sudah menjadi kodrat bila kita akan saling membutuhkan satu sama lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CATATANNYARAMADHAN "The World of The Married"

The World of The Married   Akhir-akhir ini banyak orang membicarakannya salahsatu drama korea ini. Semangat nonton drama korea. Yang seked...