The World of The Married
Akhir-akhir ini banyak orang membicarakannya salahsatu drama korea ini. Semangat nonton drama korea. Yang sekedar ingin tau jadi ikut-ikutan uploud story sana-sini entah pemainnya. Entah pesan-kesannya. Bahkan mungkin cantiknya pemain-pemainnya.
Saya jadi ingat tentang salahsatu persiapan seorang muslim menyambut ramadhan bersama keluarga barunya. Baik kualitas maupun kuantitas ibadahnya dipersiapkan dari jauh-jauh hari. Dibelahan bumi yang lain tengah mempersiapkan ramadhan terbaiknya, kesehatan, ibadah dan sebagainya sedang yang lain bersiap-siap menghabiskan kuotanya sekedar tau "apa yang trending?" The World of The Married. Nonton deh.
Apa yang kita kerjakan, lakukan akan dihisab. Allahu akbar. Sebagaimana "Tiada yang mereka nanti-nantikan kecuali datangnya Allah dan malaikat (pada hari kiamat) dalam naungan awan, dan diputuskanlah perkaranya. Dan hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan." (QS. Al-Baqarah: 210). Segala yang dikerjakan akan bertemu pada fase dihisabnya segala amalan yang menjadi penentu kelak, syurga atau neraka. Tidak ada yang sia-sia meskipun shalat terlupa. Tak ada yang sia-sia kebaikan kecil seperti tersenyum. Karena sejatinya Allahlah yang menilai pekerjaan kita. Memaksimalkan kemampuan diri dan biarkan Allah yang menentukan. Selama kita hidup, menjadi pelajar atau menjadi pelajaran bagi manusia yang lain.
Barakallah bagi kita semua, selamat menjalankan puasa Ramadhan 1441 Hijriah.
Nawaitu Shauma Ghadin an ada'i Fardhi Syahri Ramadhaana Haadzihis Sanati Lillahi ta'aala
Kamis, 23 April 2020
Jumat, 17 April 2020
BENTUK PASRAH TERBAIK
#CERITANTI
Hidup tidak pernah
luput dari kegagalan. Yang menjadi pertanyaan, sampai mana kita mau belajar
dari kegagalan untuk mencapai kesuksesan? Sering kali kita mengalami depresi
atau stress lantaran harapan tidak sesuai dengan kenyataan yang kita inginkan.
Misalnya saja saya, dulu sewaktu lulus SMA saya sangat exited belajar untuk
menempuh ujian SBMPTN. Sebagai anak terakhir, saya ingin memberikan yang
terbaik bagi keluarga saya. Bisa masuk perguruan tinggi negeri dan mendapat
beasiswa. Waktu ujian SBMPTN semakin dekat, kira-kira kurang 3 minggu lagi. Saya
semakin rajin belajar selain harus rajin membantu Ibu dirumah. Pergi ke warnet
mengurusi persyaratan SBMPTN atau belajar online-pun saya lakukan. Dari usaha
itu saya harus menerima dengan berat hati (awalnya). Allah menghendaki, tahun
itu saya tidak bisa mengikuti SBMPTN. Maag saya kambuh.
Saya ingat, saat itu
saya sedang buka puasa beberapa menit berselang perut saya sangat sakit.
Alhasil saya dibawa kedokter dekat rumah saya. Minum obat sudah, tapi tetap
saja sakit diperut saya semakin hari semakin bertambah. Alhasil saya diantar
kembali ke dokter yang berbeda. Namun lagi-lagi Allah belum meridhoi saya untuk
sembuh. Akhirnya untuk ketiga kalinya saya dibawa salahsatu dokter langganan
kakak saya (Dokter spesialis paru-paru). Qadarullah, Allah meridhoi saya sembuh
setelah berobat disana, ya meskipun sedikit aneh saya sakit perut namun berobat
ke dokter spesialis paru-paru. Selama hampir seminggu saya sakit, saya tidak
melakukan aktivitas belajar. Waktu juga menunjukkan kurang beberapa hari saya
harus ke Surabaya untuk ujian. Dengan
keadaan yang belum sepenuhnya membaik, ibu saya tidak mengizinkan untuk saya
pergi ke Surabaya. Yang saya lakukan hanya mengiyakan, tanpa berpikir bagaimana
kedepannya.
Waktu berlalu, saya
bingung apa yang harus saya lakukan. Ibu saya akhirnya menyarankan untuk
bekerja sambil menunggu ujian ditahun selanjutnya. Allah, barulah disitu saya
menyadari betapa saya telah gagal. Gagal mengikuti ujian karena perbuatan saya.
Saya yang sahur dan berbuka dengan makanan pedas. Allah begitu baik dengan
memberikan pelajaran berharga tersebut. Selama saya mencari pekerjaan, saya
menangis karena saya menginginkan sekali bisa mendapat beasiswa kuliah. Bagi
saya itulah lading saya bisa memperbaiki kondisi perekonomian keluarga.
Setelah 3 bulan lamanya,
akhirnya saya mendapatkan pekerjaan atas bantuan saudara saya. Bekerja hingga
malam dengan jarak lokasi kerja dan rumah hampir setengah jam. Saya putuskan
untuk keluar. Sayapun mencari kembali, Alhamdulillah saya mendapatkan pekerjaan
baru. Namun, lagi-lagi beratnya saya tidak kuasa. Saya akui saya memang
cengeng, maklum keinginan saya adalah kuliah dulu baru bekerja bukan bekerja
dulu baru kuliah. Pada bulan ramadhan tahun itu, paman saya datang kerumah.
Beliau menginformasikan kepada saya untuk ikut ke Jakarta, bekerja di sebuah
sekolah swasta. Jakarta? Saya belum pernah kesana, sama sekali. Namun ajaib,
saya mengiyakan. Pada bulan januari saya ke Jakarta, sendiri. Saya menahan
tangis, saat kereta tengah sampai di daerah yang penuh dengan gunung. Hati saya
tersayat, karena untuk pertama kalinya saya harus meninggalkan keluarga saya.
Dikota yang sama sekali saya tidak tau menau seperti apa.
Sampai diJakarta pada
pukul 2 malam, saya kembali dibuat menangis. Nasi yang saya bawa kena air dari
jeli yang dibawakan ibu saya. “Ya Allah itu nasi buatan ibu saya”. Saya
menangis, namun harus saya tahan. Berkahir pada tong sampah, usaha ibu saya
membuatkan sejak siang hari untuk saya bawa sebagai bekal ke Jakarta. Lapar?
Sudah pasti. Hari-hari saya lalui bekerja di sekolah, sebagai shadow teacher atau sebagai tukang
bersih-bersih sekolah. Pagi hari membersihkan sekolah, dilanjutkan menangani
anak berkebutuhan khusus, membantu teteh memasak untuk makan siang para siswa,
diakhiri dengan membersihkan kembali sekolah. itulah aktivitas saya. Sesekali
paman saya menjenguk saya, membawakan barang-barang yang saya minta atau
sekedar menelpon. Saat itu, saya sama sekali tidak kefikiran terkait mendaftar
kuliah kembali.
Pada siang hari, saya
mendapat notif pesan dari teman saya yang mengabarkan kepada saya mengikuti ujian SBMPTN. Sayapun jadi
turut ingat, akhirnya diam-diam sayapun turut mendaftar. Bekerja dan belajar.
Dua hal yang saya lakukan, kalau boleh bilang berat namun saya tetap lakukan.
Bersabar atas apa yang saya inginkan. Belajar dari apa yang sudah terjadi.
Sayapun menjaga kesehatan mental pun kesehatan. Bulan ramadhan saya usahakan
untuk terus shalat tahajud meminta yang terbaik kepada Allah.
Tiba ujian, sayapun
deg-deg’an. Saya bangun jam 4 pagi, mandi shalat dan minta Pak Ipul (Suami
teteh) untuk mengantar saya ke pemberhentian Transjakarta. Alhamdulillah,
selama 2 jam saya berdiri menahan lapar dan sesaknya orang yang tengah pergi
bekerja. Lantaran kursi bus yang sudah penuh. Dalam keadaan belum makan, sayapun
akhirnya membeli makan dan melanjutkan perjalanan (naik angkot ke lokasi ujian).
Sebelum memasuki SMK Negeri 41 Jakarta (tempat ujian SBMPTN saya) saya
memutuskan untuk makan dulu. Alhamdulillah, lauk itu sedikit basi. Akhirnya
untuk mengenyangkan perut saya putuskan untuk makan sedikit roti yang saya bawa
dan sudah saya gerigiti sejak tadi karena kelaparan.
Ujian berlangsung
dengan lemas. Saya pulang saat maghrib. Alhamdulillah badan saya terasa sangat
pegal.Qadarullah, teman-teman saya disekolah saya memahami hal itu (saya
tinggal disekolah). Saya disuruh istirahat sebentar, mandi, makan dan lalu
tidur. Sambil menunggu pengumuman, aktivitas saya lalui seperti biasa bekerja
dan bekerja.
Hari itu tiba, saya
sangat sesak. Teman-teman saya menginginkan segera membuka pengumumannya, namun
saya sangat gugup. Dalam hati saya mengatakan “dibuka setelah shalat Isya”.
Karena hati dekat dengan Allah, sayapun mengikuti kata hati saya. Selama itu
juga saya menanti dengan tetap berdoa. Alhamdulillahirobbil’alamin saya
dinyatakan lolos ujan. Namun, saya tidak bisa 100% senang. Lantaran pengumuman
beasiswa saya yang harus menunggu kira-kira satu bulan. Alhasil saya pun
menlanjutkan pekerjaan sampai dengan libur sekolah dan memutuskan berhenti
bekerja.
Dalam keadaan belum
pasti saya mengencangkan doa, agar saya permohonan beasiswa saya diterima.
Banyak tetangga saya (saya sudah kembali ke jawa) yang menanyakan “kok belum
balik?” saya hanya mengiyakan. Namun, dalam hati saya sangat takut.
Alhamdulllah, permohonan beasiswa diterima. Saya sangat senang sekali.
Alhamdulillahirobil’alamin.
Melalui beberapa fase
cobaan, saya belajar arti perjuangan. Berjuang mencari pekerjaan, menerima
makian (lantaran kerja saya yang tidak sesuai), menerima tubuh saya yang kurus
(beratnya membersihkan sekolah), dsb. Namun, Allah menghendaki keinginan saya
untuk bisa kuliah dengan beasiswa. Allah Maha Baik. Melalui ikhtiar, berdoa dan
bersabar akhirnya keinginn saya terwujud. Itulah bentuk pasrah terbaik saya,
tetap usaha meski benar berat adanya.
Langganan:
Komentar (Atom)
CATATANNYARAMADHAN "The World of The Married"
The World of The Married Akhir-akhir ini banyak orang membicarakannya salahsatu drama korea ini. Semangat nonton drama korea. Yang seked...
