Jumat, 27 Maret 2020

Dua raka’at yang lewat


#CERITANTI


  Malam hari adalah waktu terbaik saya baik membaca buku, menulis atau sekedar membaca pesan whatsapp. Kenapa saya katakan terbaik? Benar, tak ada gangguan dari sana-sini. Saya bisa melakukan aktivitas yang saya inginkan. Membaca novel adalah salahsatu hiburan yang sering saya lakukan, lantaran dengan membaca saya menemukan banyak kosakata baru dan sayapun dapat memaknai hidup lebih baru.

  Tapi bukan itu yang saya maksud dalam tulisan ini, buka bercerita bagaimana kisah dari novel yang saya baca. Lebih dari novel, ini adalah hubungan antara saya dan pencipta. Pada tanggal 23 maret kemaren saya memutuskan pulang ke Kediri setelah tidak berani kemana-mana (kecuali beli snack, sayur dan buah). Kebetulan teman saya yang berasal dari Nganjuk dijemput jadi saya bisa nebeng temen saya itu. Setelah mengikuti prosedur dari desa, saya diharuskan untuk karantina mandiri selama 14 hari kedepan. Lantaran saya pulang dari zona merah, Malang. Selama dirumah saya disibukan membantu keluarga baik masak, mencuci piring, baju atau lainnya. Bukan Cuma itu, sayapun juga harus mengikuti kelas online, nugas dan menjaga pikiran tetap sehat di tengah wabah covid-19. Untuk menjaga mood dan semangat belajar, saya memberikan self-reward berupa membaca buku setelah nugas dimalam hari. Berbagai novel dengan berbagai tema saya baca, namun ada hal yang harus saya hindari yaitu tidur malam. Saya yang notabene orang yang jarang begadang, karena sebuah novel akhirnya beralih menjadi manusia lowo. Begitulah teman saya berkata, dimalam hari saya akan membaca novel, siangnya saya tidur untuk mengembalikan daya tahan tubuh saya setelah lelah dimalam hari. Selain harus bersiap dengan pundak yang terasa pegal karena harus membaca sambil dudukan, mata yang perih menatap layar ponsel atau kepala yang terasa pusing, ada satu hal yang membuat saya menjadi kacau. 


  Dua raka’at itu hilang, hilang karena termakan lelahnya begadang. Mematikan alarm shalat shubuh dengan dalih 5 menit lagi, namun kenyataannya lebih dari itu. Alih-alih saya menyelesakan tugas kuliah saya gunakan untuk membaca novel yang kebanyakan ber-genre romance. Bukan, saya bukan seorang bucin tapi saya memang suka genre romance. Namun dibalik itu semua, bisa dibayangkan saya mengawali pagi saya dengan keterlambatan shalat shubuh. Sangat disayangkan bukan? Bukankah pagi hari menjadi awalan bagi saya untuk lebih baik dari hari sebelumnya? Bukankah kita tidak tau kapan kita tidak bisa bangun kembali? Mati nanti dalam keadaan apa? Bersyukur kepada Allah, Alhamdulillah hirobblil’alamin saya masih bisa menulis cerita saya pagi ini. Begadang memang tidak salah, bila memang harus dilakukan. Namun, jangan lupakan kewajiban bahwa saya dan kalian semua memiliki titipan berupa badan yang harus dijaga kesehatannya. Badan yang terdiri dari jiwa dan raga yang harus tetap sehat untuk bisa beribadah, menyembah kepada Allah ta’ala. Badan yang harus siap bangun dipagi hari untuk shalat dua raka’at yaitu shalat shubuh. Bukankah ada banyak sekali keutamaan-keutamaan shalat shubuh?

  Taukah? Baiklah saya dan kalian, mari berlajar menguatkan diri kembali untuk bisa bangun pagi kembali. Mengutip dari beberapa sumber, berikut adalah keutamaan shalat shubuh:
1.      Dengan menunaikan shalat shubuh, maka akan selalu dilindungi dan mendapat berkah dari Allah
2.      Kemenangan melihat Allah pada hari kiamat
3.      Waktu shubuh merupakan waktu dimana banyak sekali pelajaran yang bisa kita petik dari kisah-kisah di zaman Rasulullah seperti peristiwa kaum Sodom yang ditenggelamkan di laut mati, dsb.
4.  Dan sebagainya.

  Waktu Shubuh adalah langkah kita menghadapi dunia. Dengan shalat kita menjadi dekat dengan pencipta. Menjadi pembuka bagi kita untuk terus beriman, berikhtiar dan istiqamah pada perbuatan baik yang kita kerjakan. Shalat menjadi ladang doa bagi kita semua, berharap semoga hari ini, esok dan nanti kita diberikan kemudahan menjalani kehidupan didunia.
Yang semoga cerita saya ini menginspirasi kalian. Jangan lupa tetap waspada bahaya covid-19. Tetap stay at home, bila memang sangat diperlukan keluar rumah maka jangan sampai lupa menggunakan masker dan membawa handsnitizer. Terus doakan keluarga, sahabat, orang-orang yang berjasa ataupun teman dan diri kalian agar bersama-sama masuk syurga kelak. Allahumma amin.

CATATANNYARAMADHAN "The World of The Married"

The World of The Married   Akhir-akhir ini banyak orang membicarakannya salahsatu drama korea ini. Semangat nonton drama korea. Yang seked...