#CERITANTI
Malam hari adalah waktu
terbaik saya baik membaca buku, menulis atau sekedar membaca pesan whatsapp. Kenapa saya katakan terbaik?
Benar, tak ada gangguan dari sana-sini. Saya bisa melakukan aktivitas yang saya
inginkan. Membaca novel adalah salahsatu hiburan yang sering saya lakukan,
lantaran dengan membaca saya menemukan banyak kosakata baru dan sayapun dapat
memaknai hidup lebih baru.
Tapi bukan itu yang
saya maksud dalam tulisan ini, buka bercerita bagaimana kisah dari novel yang
saya baca. Lebih dari novel, ini adalah hubungan antara saya dan pencipta. Pada
tanggal 23 maret kemaren saya memutuskan pulang ke Kediri setelah tidak berani
kemana-mana (kecuali beli snack,
sayur dan buah). Kebetulan teman saya yang berasal dari Nganjuk dijemput jadi
saya bisa nebeng temen saya itu. Setelah mengikuti prosedur dari desa, saya
diharuskan untuk karantina mandiri selama 14 hari kedepan. Lantaran saya pulang
dari zona merah, Malang. Selama dirumah saya disibukan membantu keluarga baik
masak, mencuci piring, baju atau lainnya. Bukan Cuma itu, sayapun juga harus
mengikuti kelas online, nugas dan
menjaga pikiran tetap sehat di tengah wabah covid-19. Untuk menjaga mood dan semangat belajar, saya
memberikan self-reward berupa membaca
buku setelah nugas dimalam hari. Berbagai novel dengan berbagai tema saya baca,
namun ada hal yang harus saya hindari yaitu tidur malam. Saya yang notabene orang yang jarang begadang,
karena sebuah novel akhirnya beralih menjadi manusia lowo. Begitulah teman saya
berkata, dimalam hari saya akan membaca novel, siangnya saya tidur untuk
mengembalikan daya tahan tubuh saya setelah lelah dimalam hari. Selain harus
bersiap dengan pundak yang terasa pegal karena harus membaca sambil dudukan,
mata yang perih menatap layar ponsel atau kepala yang terasa pusing, ada satu
hal yang membuat saya menjadi kacau.
Dua raka’at itu hilang,
hilang karena termakan lelahnya begadang. Mematikan alarm shalat shubuh dengan dalih 5 menit lagi, namun kenyataannya
lebih dari itu. Alih-alih saya menyelesakan tugas kuliah saya gunakan untuk
membaca novel yang kebanyakan ber-genre
romance. Bukan, saya bukan seorang
bucin tapi saya memang suka genre romance.
Namun dibalik itu semua, bisa dibayangkan saya mengawali pagi saya dengan keterlambatan
shalat shubuh. Sangat disayangkan bukan? Bukankah pagi hari menjadi awalan bagi
saya untuk lebih baik dari hari sebelumnya? Bukankah kita tidak tau kapan kita
tidak bisa bangun kembali? Mati nanti dalam keadaan apa? Bersyukur kepada
Allah, Alhamdulillah hirobblil’alamin saya masih bisa menulis cerita saya pagi
ini. Begadang memang tidak salah, bila memang harus dilakukan. Namun, jangan
lupakan kewajiban bahwa saya dan kalian semua memiliki titipan berupa badan
yang harus dijaga kesehatannya. Badan yang terdiri dari jiwa dan raga yang
harus tetap sehat untuk bisa beribadah, menyembah kepada Allah ta’ala. Badan
yang harus siap bangun dipagi hari untuk shalat dua raka’at yaitu shalat
shubuh. Bukankah ada banyak sekali keutamaan-keutamaan shalat shubuh?
Taukah? Baiklah saya
dan kalian, mari berlajar menguatkan diri kembali untuk bisa bangun pagi
kembali. Mengutip dari beberapa sumber, berikut adalah keutamaan shalat shubuh:
1.
Dengan
menunaikan shalat shubuh, maka akan selalu dilindungi dan mendapat berkah dari Allah
2.
Kemenangan
melihat Allah pada hari kiamat
3.
Waktu shubuh merupakan
waktu dimana banyak sekali pelajaran yang bisa kita petik dari kisah-kisah di
zaman Rasulullah seperti peristiwa kaum Sodom yang ditenggelamkan di laut mati,
dsb.
4. Dan sebagainya.
4. Dan sebagainya.
Waktu Shubuh adalah
langkah kita menghadapi dunia. Dengan shalat kita menjadi dekat dengan
pencipta. Menjadi pembuka bagi kita untuk terus beriman, berikhtiar dan
istiqamah pada perbuatan baik yang kita kerjakan. Shalat menjadi ladang doa
bagi kita semua, berharap semoga hari ini, esok dan nanti kita diberikan
kemudahan menjalani kehidupan didunia.
Yang semoga cerita saya
ini menginspirasi kalian. Jangan lupa tetap waspada bahaya covid-19. Tetap stay
at home, bila memang sangat diperlukan keluar rumah maka jangan sampai lupa
menggunakan masker dan membawa handsnitizer. Terus doakan keluarga, sahabat,
orang-orang yang berjasa ataupun teman dan diri kalian agar bersama-sama masuk
syurga kelak. Allahumma amin.
