Kamis, 23 April 2020

CATATANNYARAMADHAN "The World of The Married"

The World of The Married

 
Akhir-akhir ini banyak orang membicarakannya salahsatu drama korea ini. Semangat nonton drama korea. Yang sekedar ingin tau jadi ikut-ikutan uploud story sana-sini entah pemainnya. Entah pesan-kesannya. Bahkan mungkin cantiknya pemain-pemainnya.
Saya jadi ingat tentang salahsatu persiapan seorang muslim menyambut ramadhan bersama keluarga barunya. Baik kualitas maupun kuantitas ibadahnya dipersiapkan dari jauh-jauh hari. Dibelahan bumi yang lain tengah mempersiapkan ramadhan terbaiknya, kesehatan, ibadah dan sebagainya sedang yang lain bersiap-siap menghabiskan kuotanya sekedar tau "apa yang trending?" The World of The Married. Nonton deh.
Apa yang kita kerjakan, lakukan akan dihisab. Allahu akbar.  Sebagaimana "Tiada yang mereka nanti-nantikan kecuali datangnya Allah dan malaikat (pada hari kiamat) dalam naungan awan, dan diputuskanlah perkaranya. Dan hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan." (QS. Al-Baqarah: 210). Segala yang dikerjakan akan bertemu pada fase dihisabnya segala amalan yang menjadi penentu kelak, syurga atau neraka. Tidak ada yang sia-sia meskipun shalat terlupa. Tak ada yang sia-sia kebaikan kecil seperti tersenyum. Karena sejatinya Allahlah yang menilai pekerjaan kita. Memaksimalkan kemampuan diri dan biarkan Allah yang menentukan. Selama kita hidup, menjadi pelajar atau menjadi pelajaran bagi manusia yang lain.

Barakallah bagi kita semua, selamat menjalankan puasa Ramadhan 1441 Hijriah.
Nawaitu Shauma Ghadin an ada'i Fardhi Syahri Ramadhaana Haadzihis Sanati Lillahi ta'aala

Jumat, 17 April 2020

BENTUK PASRAH TERBAIK


#CERITANTI


Hidup tidak pernah luput dari kegagalan. Yang menjadi pertanyaan, sampai mana kita mau belajar dari kegagalan untuk mencapai kesuksesan? Sering kali kita mengalami depresi atau stress lantaran harapan tidak sesuai dengan kenyataan yang kita inginkan. Misalnya saja saya, dulu sewaktu lulus SMA saya sangat exited belajar untuk menempuh ujian SBMPTN. Sebagai anak terakhir, saya ingin memberikan yang terbaik bagi keluarga saya. Bisa masuk perguruan tinggi negeri dan mendapat beasiswa. Waktu ujian SBMPTN semakin dekat, kira-kira kurang 3 minggu lagi. Saya semakin rajin belajar selain harus rajin membantu Ibu dirumah. Pergi ke warnet mengurusi persyaratan SBMPTN atau belajar online-pun saya lakukan. Dari usaha itu saya harus menerima dengan berat hati (awalnya). Allah menghendaki, tahun itu saya tidak bisa mengikuti SBMPTN. Maag saya kambuh.
Saya ingat, saat itu saya sedang buka puasa beberapa menit berselang perut saya sangat sakit. Alhasil saya dibawa kedokter dekat rumah saya. Minum obat sudah, tapi tetap saja sakit diperut saya semakin hari semakin bertambah. Alhasil saya diantar kembali ke dokter yang berbeda. Namun lagi-lagi Allah belum meridhoi saya untuk sembuh. Akhirnya untuk ketiga kalinya saya dibawa salahsatu dokter langganan kakak saya (Dokter spesialis paru-paru). Qadarullah, Allah meridhoi saya sembuh setelah berobat disana, ya meskipun sedikit aneh saya sakit perut namun berobat ke dokter spesialis paru-paru. Selama hampir seminggu saya sakit, saya tidak melakukan aktivitas belajar. Waktu juga menunjukkan kurang beberapa hari saya harus ke Surabaya untuk ujian.  Dengan keadaan yang belum sepenuhnya membaik, ibu saya tidak mengizinkan untuk saya pergi ke Surabaya. Yang saya lakukan hanya mengiyakan, tanpa berpikir bagaimana kedepannya.

Waktu berlalu, saya bingung apa yang harus saya lakukan. Ibu saya akhirnya menyarankan untuk bekerja sambil menunggu ujian ditahun selanjutnya. Allah, barulah disitu saya menyadari betapa saya telah gagal. Gagal mengikuti ujian karena perbuatan saya. Saya yang sahur dan berbuka dengan makanan pedas. Allah begitu baik dengan memberikan pelajaran berharga tersebut. Selama saya mencari pekerjaan, saya menangis karena saya menginginkan sekali bisa mendapat beasiswa kuliah. Bagi saya itulah lading saya bisa memperbaiki kondisi perekonomian keluarga. 

Setelah 3 bulan lamanya, akhirnya saya mendapatkan pekerjaan atas bantuan saudara saya. Bekerja hingga malam dengan jarak lokasi kerja dan rumah hampir setengah jam. Saya putuskan untuk keluar. Sayapun mencari kembali, Alhamdulillah saya mendapatkan pekerjaan baru. Namun, lagi-lagi beratnya saya tidak kuasa. Saya akui saya memang cengeng, maklum keinginan saya adalah kuliah dulu baru bekerja bukan bekerja dulu baru kuliah. Pada bulan ramadhan tahun itu, paman saya datang kerumah. Beliau menginformasikan kepada saya untuk ikut ke Jakarta, bekerja di sebuah sekolah swasta. Jakarta? Saya belum pernah kesana, sama sekali. Namun ajaib, saya mengiyakan. Pada bulan januari saya ke Jakarta, sendiri. Saya menahan tangis, saat kereta tengah sampai di daerah yang penuh dengan gunung. Hati saya tersayat, karena untuk pertama kalinya saya harus meninggalkan keluarga saya. Dikota yang sama sekali saya tidak tau menau seperti apa. 

Sampai diJakarta pada pukul 2 malam, saya kembali dibuat menangis. Nasi yang saya bawa kena air dari jeli yang dibawakan ibu saya. “Ya Allah itu nasi buatan ibu saya”. Saya menangis, namun harus saya tahan. Berkahir pada tong sampah, usaha ibu saya membuatkan sejak siang hari untuk saya bawa sebagai bekal ke Jakarta. Lapar? Sudah pasti. Hari-hari saya lalui bekerja di sekolah, sebagai shadow teacher atau sebagai tukang bersih-bersih sekolah. Pagi hari membersihkan sekolah, dilanjutkan menangani anak berkebutuhan khusus, membantu teteh memasak untuk makan siang para siswa, diakhiri dengan membersihkan kembali sekolah. itulah aktivitas saya. Sesekali paman saya menjenguk saya, membawakan barang-barang yang saya minta atau sekedar menelpon. Saat itu, saya sama sekali tidak kefikiran terkait mendaftar kuliah kembali.

Pada siang hari, saya mendapat notif pesan dari teman saya yang mengabarkan kepada  saya mengikuti ujian SBMPTN. Sayapun jadi turut ingat, akhirnya diam-diam sayapun turut mendaftar. Bekerja dan belajar. Dua hal yang saya lakukan, kalau boleh bilang berat namun saya tetap lakukan. Bersabar atas apa yang saya inginkan. Belajar dari apa yang sudah terjadi. Sayapun menjaga kesehatan mental pun kesehatan. Bulan ramadhan saya usahakan untuk terus shalat tahajud meminta yang terbaik kepada Allah. 

Tiba ujian, sayapun deg-deg’an. Saya bangun jam 4 pagi, mandi shalat dan minta Pak Ipul (Suami teteh) untuk mengantar saya ke pemberhentian Transjakarta. Alhamdulillah, selama 2 jam saya berdiri menahan lapar dan sesaknya orang yang tengah pergi bekerja. Lantaran kursi bus yang sudah penuh. Dalam keadaan belum makan, sayapun akhirnya membeli makan dan melanjutkan perjalanan (naik angkot ke lokasi ujian). Sebelum memasuki SMK Negeri 41 Jakarta (tempat ujian SBMPTN saya) saya memutuskan untuk makan dulu. Alhamdulillah, lauk itu sedikit basi. Akhirnya untuk mengenyangkan perut saya putuskan untuk makan sedikit roti yang saya bawa dan sudah saya gerigiti sejak tadi karena kelaparan.
Ujian berlangsung dengan lemas. Saya pulang saat maghrib. Alhamdulillah badan saya terasa sangat pegal.Qadarullah, teman-teman saya disekolah saya memahami hal itu (saya tinggal disekolah). Saya disuruh istirahat sebentar, mandi, makan dan lalu tidur. Sambil menunggu pengumuman, aktivitas saya lalui seperti biasa bekerja dan bekerja. 

Hari itu tiba, saya sangat sesak. Teman-teman saya menginginkan segera membuka pengumumannya, namun saya sangat gugup. Dalam hati saya mengatakan “dibuka setelah shalat Isya”. Karena hati dekat dengan Allah, sayapun mengikuti kata hati saya. Selama itu juga saya menanti dengan tetap berdoa. Alhamdulillahirobbil’alamin saya dinyatakan lolos ujan. Namun, saya tidak bisa 100% senang. Lantaran pengumuman beasiswa saya yang harus menunggu kira-kira satu bulan. Alhasil saya pun menlanjutkan pekerjaan sampai dengan libur sekolah dan memutuskan berhenti bekerja.
Dalam keadaan belum pasti saya mengencangkan doa, agar saya permohonan beasiswa saya diterima. Banyak tetangga saya (saya sudah kembali ke jawa) yang menanyakan “kok belum balik?” saya hanya mengiyakan. Namun, dalam hati saya sangat takut. Alhamdulllah, permohonan beasiswa diterima. Saya sangat senang sekali. Alhamdulillahirobil’alamin.

Melalui beberapa fase cobaan, saya belajar arti perjuangan. Berjuang mencari pekerjaan, menerima makian (lantaran kerja saya yang tidak sesuai), menerima tubuh saya yang kurus (beratnya membersihkan sekolah), dsb. Namun, Allah menghendaki keinginan saya untuk bisa kuliah dengan beasiswa. Allah Maha Baik. Melalui ikhtiar, berdoa dan bersabar akhirnya keinginn saya terwujud. Itulah bentuk pasrah terbaik saya, tetap usaha meski benar berat adanya.

Jumat, 27 Maret 2020

Dua raka’at yang lewat


#CERITANTI


  Malam hari adalah waktu terbaik saya baik membaca buku, menulis atau sekedar membaca pesan whatsapp. Kenapa saya katakan terbaik? Benar, tak ada gangguan dari sana-sini. Saya bisa melakukan aktivitas yang saya inginkan. Membaca novel adalah salahsatu hiburan yang sering saya lakukan, lantaran dengan membaca saya menemukan banyak kosakata baru dan sayapun dapat memaknai hidup lebih baru.

  Tapi bukan itu yang saya maksud dalam tulisan ini, buka bercerita bagaimana kisah dari novel yang saya baca. Lebih dari novel, ini adalah hubungan antara saya dan pencipta. Pada tanggal 23 maret kemaren saya memutuskan pulang ke Kediri setelah tidak berani kemana-mana (kecuali beli snack, sayur dan buah). Kebetulan teman saya yang berasal dari Nganjuk dijemput jadi saya bisa nebeng temen saya itu. Setelah mengikuti prosedur dari desa, saya diharuskan untuk karantina mandiri selama 14 hari kedepan. Lantaran saya pulang dari zona merah, Malang. Selama dirumah saya disibukan membantu keluarga baik masak, mencuci piring, baju atau lainnya. Bukan Cuma itu, sayapun juga harus mengikuti kelas online, nugas dan menjaga pikiran tetap sehat di tengah wabah covid-19. Untuk menjaga mood dan semangat belajar, saya memberikan self-reward berupa membaca buku setelah nugas dimalam hari. Berbagai novel dengan berbagai tema saya baca, namun ada hal yang harus saya hindari yaitu tidur malam. Saya yang notabene orang yang jarang begadang, karena sebuah novel akhirnya beralih menjadi manusia lowo. Begitulah teman saya berkata, dimalam hari saya akan membaca novel, siangnya saya tidur untuk mengembalikan daya tahan tubuh saya setelah lelah dimalam hari. Selain harus bersiap dengan pundak yang terasa pegal karena harus membaca sambil dudukan, mata yang perih menatap layar ponsel atau kepala yang terasa pusing, ada satu hal yang membuat saya menjadi kacau. 


  Dua raka’at itu hilang, hilang karena termakan lelahnya begadang. Mematikan alarm shalat shubuh dengan dalih 5 menit lagi, namun kenyataannya lebih dari itu. Alih-alih saya menyelesakan tugas kuliah saya gunakan untuk membaca novel yang kebanyakan ber-genre romance. Bukan, saya bukan seorang bucin tapi saya memang suka genre romance. Namun dibalik itu semua, bisa dibayangkan saya mengawali pagi saya dengan keterlambatan shalat shubuh. Sangat disayangkan bukan? Bukankah pagi hari menjadi awalan bagi saya untuk lebih baik dari hari sebelumnya? Bukankah kita tidak tau kapan kita tidak bisa bangun kembali? Mati nanti dalam keadaan apa? Bersyukur kepada Allah, Alhamdulillah hirobblil’alamin saya masih bisa menulis cerita saya pagi ini. Begadang memang tidak salah, bila memang harus dilakukan. Namun, jangan lupakan kewajiban bahwa saya dan kalian semua memiliki titipan berupa badan yang harus dijaga kesehatannya. Badan yang terdiri dari jiwa dan raga yang harus tetap sehat untuk bisa beribadah, menyembah kepada Allah ta’ala. Badan yang harus siap bangun dipagi hari untuk shalat dua raka’at yaitu shalat shubuh. Bukankah ada banyak sekali keutamaan-keutamaan shalat shubuh?

  Taukah? Baiklah saya dan kalian, mari berlajar menguatkan diri kembali untuk bisa bangun pagi kembali. Mengutip dari beberapa sumber, berikut adalah keutamaan shalat shubuh:
1.      Dengan menunaikan shalat shubuh, maka akan selalu dilindungi dan mendapat berkah dari Allah
2.      Kemenangan melihat Allah pada hari kiamat
3.      Waktu shubuh merupakan waktu dimana banyak sekali pelajaran yang bisa kita petik dari kisah-kisah di zaman Rasulullah seperti peristiwa kaum Sodom yang ditenggelamkan di laut mati, dsb.
4.  Dan sebagainya.

  Waktu Shubuh adalah langkah kita menghadapi dunia. Dengan shalat kita menjadi dekat dengan pencipta. Menjadi pembuka bagi kita untuk terus beriman, berikhtiar dan istiqamah pada perbuatan baik yang kita kerjakan. Shalat menjadi ladang doa bagi kita semua, berharap semoga hari ini, esok dan nanti kita diberikan kemudahan menjalani kehidupan didunia.
Yang semoga cerita saya ini menginspirasi kalian. Jangan lupa tetap waspada bahaya covid-19. Tetap stay at home, bila memang sangat diperlukan keluar rumah maka jangan sampai lupa menggunakan masker dan membawa handsnitizer. Terus doakan keluarga, sahabat, orang-orang yang berjasa ataupun teman dan diri kalian agar bersama-sama masuk syurga kelak. Allahumma amin.

CATATANNYARAMADHAN "The World of The Married"

The World of The Married   Akhir-akhir ini banyak orang membicarakannya salahsatu drama korea ini. Semangat nonton drama korea. Yang seked...